KARAKTERISTIK KETENAGAKERJAAN DI PEDESAAN:
•Banyak lembaga, instansi pemerintah maupun organisasi swasta yang meyelenggarakan pelatihan untuk mendidik pekerja terampil (skilled labor).

•Operasional Balai Latihan Kerja menghadapi kenyataan mahalnya biaya pengadaan peralatan serta tingginya biaya pengelolaan.

…•Kenyataannya, hasil latihan yang telah diberikan kurang bisa diserap oleh lapangan kerja yang tersedia, sebagai akibat keterbatasan investasi di sektor riil.

•Salah satu contoh dari kasus ini adalah vocational training dalam
bidang pertanian. Peserta meskipun sudah menyelesaikan pelatihan dengan baik, namun tidak dapat diserap di sektor pertanian ataupun agro industri, karena memang investasi dalam bidang ini sangat terbatas.

Kebijakan ketenagakerjaan umumnya menggunakan pasar kerja formal sebagai sasaran kebijakan. Akibatnya, kelompok terbesar yang terdapat dalam sektor informal justru tidak terjangkau oleh kebijakan tersebut.

Akan lebih tepat kiranya jika kebi…jakan ketenagakerjaan disusun dengan fokus pada peningkatan kemampuan kaum miskin untuk berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja, juga mengingat daya tawar yang rendah dari orang miskin di pasar ini seperti telah disebut di atas.

Kebijakan seperti ini tentunya mensyaratkan investasi yang memadai dalam hal pendidikan.

Strong Institutions are most needed when they matter most – in times of crises. If there is one final lesson that The Indonesian experience offers it is that a country cannot start early enough with the building and nurturing of STRONG INSTITUTIONS * ( Bert Hofman, INDONESIA: Rapid Growth, Weak Institutions, World Bank Office Jakarta, 2004 )

* KITA harus BERANI melakukan terobosan yang positif agar Banten semakin Maju dan Berkembang (MULYADI JAYABAYA, BUPATI LEBAK-BANTEN) *

Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Banten pada bulan Maret 2009 788.067 orang (7,64%). Terbagi dalam Kemiskinan Kota sebesar 348.700 orang (5,62%) dan Kemiskinan Desa sebesar 439.300 orang (10,70%) –> Sumber: BPS Prop. Banten (2009)

* LINGKARAN SETAN KEMISKINAN (Vicious Circle Of Poverty) *

Ada 2 metode untuk memotong Lingkaran Setan Kemiskinan:
(1). Melakukan pembangunan yang terencana dengan mencari modal dengan Konsep Industrialisasi yang diproteksi.
–> memperbaiki mekanisme pasar
…–> mengurangi pengangguran
–> keseimbangan dan keselarasan pembangunan di sektor pertanian dan industri
–> infrastruktur yang memadai
–> penguatan lembaga keuangan
(2). Menghimpun tabungan wajib yang disebut Industrialisasi dengan kemampuan sendiri.

Kalau bukan kita siapa lagi yang mau membantu negara dan pemerintah untuk memajukan negri ini.

sudah saatnya kita bngun.

Data Pribadi

Nama Robi Rendanikusuma
Tempat tanggal lahir Rangkasbitung, 31 Maret 1990
Alamat Jl. Kapugeran Gg. Rukun No. 29 L Rangkasbitung,

Banten 42312

Email robirendanikusuma@ymail.com
Ho. Hp 0856 9574 6900
Status Belum menikah

Jenjang Pendidikan

1997-2002 SD Negeri 1 Rangkasbitung
2002-2005 SMP Negeri 4 Rangkasbitung
2005-2008 SMA Negeri 1 Rangkasbitung
2008-sekarang Institut Pertanian Bogor,Jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM)

Fakultas Ekologi Manusia

Kemampuan Komputer

  • MS Office Applications 2000/2003/2007/Vista (Ms Word, Ms Excel, Ms Power Point).
  • Internet Application (Internet Explorer, E-mail)
  • Microsoft Visual Basic, Microsoft Access, Microsoft Visio, Windows Movie Maker

Pengalaman Organisasi

2005-2006 Pengurus Osis Bidang Disiplin dan Bela Negara
2006-2007 Kepala Bidang Kaderisasi ekstrakurikuler “Patroli Keamanan Sekolah”
2006-2007 Wakil Ketua Perguruan Silat Tapak Suci SMAN 1 Rangkasbitung
2006-2007 Wakil Ketua Osis SMA Negeri 1 Rangkasbitung
2006-2007 Public Relation Ekstrakulikuler Script of Smansa
2009- sekarang Pengurus UKM Gentra Kaheman IPB Bidang Sumber Daya Manusia

PRESTASI

2005 Juara 3 Lomba Baca Puisi Beregu, Bulan Bahasa SMPN 4 Rangkasbitung
2007 Siswa Teladan SMAN 1 Rangksbitung
2007 Juara Lomba Keterampilan Baris Berbaris Tingkat Privinsi Banten
2007 Duta Anak Perwakilan Kabupaten Lebak
2008 Duta Anak Provinsi Banten
2008 Kandidat Duta Anak Nasional
2009 Pemain Angklung dalam Konser JAZZ kolaborasi “Mike Del Ferro Trio”

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1
Latar Belakang

Dalam
kehidupan sehari-hari manusia cenderung selalu melakuakn interaksi dengan
sesamanya karena itu sudah kodrat manusia diciptakan sebagai makhluk social
yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Setiap manusia pasti melakuakn suatu
proses yang dinamakan komunikasi. Komunikasi merupakan suatu proses interaksi
antar individu yang mempertukarkan sebuah informasi untuk mengubah sebuah
sikap, perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui
media. Komunikasi massa merupakan salah satu proses yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.

Definisi
yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980: 10)
dalam Rakhmat (1998: 188) komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan
melalui media massa pada sejumlah besar orang. Komunikasi massa bisa dianggap
tersebar, heterogen melalui media cetak atau elektonik sehingga tujuan dalam
komunikasi tersebut tercapai yaitu pesan/informasi yang diterima sama dengan
yang disampaikan oleh sumber. Media massa yang dapat digunakan banyak seperti
surat kabar, radio, televisi, majalah, film, dll..

Media
massa sangat memiliki peranan penting dalam terjadinya suatu komunikasi massa
dan perubahan budaya dalam masyarakat. Contohnya televisi diduga memiliki
pengaruh yang kuat terhadap kehidupan manusia. Tetapi pengaruhnya tersebut bisa
bersifat negative ataupun positf bergantung pada pengelolaannya. Kehadiran
televisi didalam kehidupan masyarakat luas ini dapat memberikan pengaruh yang
positif terhadap sistem komunikasi yang sedang berlaku di Indonesia, asalkan
seiring dengan media massa dan media lainnya dalam menjalankan fiungsinya.
Berbicara sistem komunikasi tidak berbeda dengan berbicara tentang sistem
masyarakat Indonesia, tentang manusia Indonesia dalam mencerna sebuah informasi
dalam proses komunikasi.

Tayangan
televisi banyak yang sudah tidak sesuai dengan tatanan nilai budaya dalam
masyarakat. Melalui penggunaan bahasa dan gambar sebagai sistem simbol yang
utama, tayangan televisi mampu menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suatu
realitas. Tanpa sadar kita digiring oleh definisi yang ditanamkan media. Secara
tidak langsung hal itu membuat kita mengubah definisi kita atau menubah asumsi
kita terhadap suatu masalah.

Masyarakat
Indonesia sendiri sudah pernah mengalami hidup pada tiga zaman yaitu penjajahan
Belanda, penjajahan Jepang dan kemerdekaan. Pengaruh sistem pemerintahan besar
sekali terhadap sistem komunikasi, jelas dialami oleh orang Indonesia yang
mengalami hidup di tiga zaman tersebut. Entah apa pengaruh yang lebih jelasnya
lagi, sehingga masalah ini menjadi penting untuk dibahas lebih lanjut.

1.2
Rumusan Masalah

Televisi
sering kali digunakan dalam kehidupan guna memperoleh sebuah informasi yang
sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat tersebut. Maka terdapat rumusan
masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana
perkembangan televisi sebagai media massa?

2. Apakah
televisi berpengaruh terhadap budaya dan sistem komunikasi di Indonesia?

1.3
Tujuan

Dalam
penyusunan tulisan ini ada beberapa tujuan yaitu untuk mengkaji lebih dalam
komunikasi massa dalam masyarakat, untuk mengetahui pengaruh televisi dalam
kehidupan masyarakat dan sistem komunikasi yang ada di Indonesia serta untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi masyarakat pada komunikasi
massa.

1.4
Manfaat

Adapun
manfaat dari tulisan ini membuka kepada pembaca tentang pentingnya komunikasi
massa yang berpengaruh pada sistem komunikasi yang ada. Menambah wawasan
penulis dalam bidang komunikasi massa dan sebagai salah satu pemenuhan tugas
akhir matakuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah

BAB II

SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI

2.1 Televisi sebagai
Media Komunikasi Massa

Komunikasi
massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang
tesebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak maupun elektronik sehingga
pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Effendy, 2008)[1].
Televisi sebagai media massa baru lahir pada tahun 1946, ketika khalayak dapat
menonton siaran rapat Dewan Keamanan PBB New York (Amir, 1999).  Menurut Ma’rat dalam Effendy (2008)[2], ”acara
televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan
penonton, sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan
menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan
kisah atau peristiwa yang ditayangkan televisi.” Televisi sangat memiliki daya
tarik kuat yang disebabkan unsur-unsur kata, musik dan sound effect serta memiliki unsure visual berupa gambar. Televisi
menjadi media komunikasi setelah adanya radio yang dapat menyampaikan informasi
kepada khalayak namun masih terdapat kekurangan, seperti pesan hanya secara
suara/audio tanpa ada gambar.

2.3
Televisi Sebagai Hasil Kebudayaan

Budaya
dalam arti luas menurut Koenjtaraningrat (2002) merupakan seluruh total dari
pikiran, karya , dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya
dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah prosess belajar.

“Sedangkan Sumarwan (2002) mengatakan,
pengertian kebudayaan adalah segala nilai, pemikiran, symbol yang mempengaruhi
perilaku, sikap, kepercayaan dan kebiasaan seseorang dan masyarakat. Budaya
menjadi suatu pola karena terjadi berulang ulang, berakar, terpola, sehingga
sulit untuk berubah dan membutuhkan penyesuaian untuk masuk kedalam masyarakat.”

Budaya sendiri tidak harus yang bersifat
abstrak seperti nilai/norma dan pemikiran, namun budaya juga bisa berbentuk
objek material yang nyata. Televisi, radio dan bahasa bisa di pandang sebagai
hasil dari sebuah kebudayaan yang sudah tidak asing dalam masyarakat. Televisi
ini mempengaruhi aspek-espek kehidupan masyarakat, termasuk budaya karena
seperti teleh disebut diatas televisi sudah merupakan budaya yang terlibat
dalam kehidupan masyarakat. Sehingga dengan mudah diterima dan mempengaruhi
masyarakat itu

BAB
III

PENGARUH TELEVISI TERHADAP
MASYARAKAT

3.1
Kedudukan Televisi dalam Kehidupan sosial Masyarakat

Beragam
kemajuan teknologi semakin memudahkan masyarakat dalam mengakases informasi
dari luar, salah satunya dengan cara menonton siaran televisi. Hal ini
menjadikan televisi sebagai salah satu media yang paling banyak di akses oleh
masyarakat. Menurut James Lull dalam Mulyana (2008)[3],
televisi merupakan medium sosial yang memungkinakan anggota khalayak
berkomunikasi dan mengkonstruksi strtegi untuk memperoleh tujuan pribadi dan
social secara luas. Karena itu tayangan televisi eken member efek yang lebih
kuat daripada media lainnya. Tayangan televisi lebih mempu menembus daya nalar
manusia menggerakan manusia untuk melakukan berbagai aksi baik dalam arti
positif maupaun  negativ.

Televisi
mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kedalam jiwa manusia melalui mata
dan telinga. Umumnya orang akan mengingat setiap informasi yang ditayangkan
televisi dengan mudah, meskipun tayangan tersebut hanya ditayangkan sekali
saja. Kemampuan televisi yang luar biasa terebut sangat bermanfaat bagi banyak
pihak baik dari kalangan ekonomi hingga politik. Televisi dijadikan suatu media
periklanan yang sngat efektif oleh pengusaha untuk mempromosikan barang/jasa
mereka. Sementara bagi kalangan politisi, televisi sering dijadikan sebagai
media untuk menggalang massa agar mendukung mereka. Fungsi lainnya yaitu
sebagai media publikasi dan sosialisasi dari setiap kebijakan pemerintah
seperti penurunan BBM dan kebijakan konversi minyak tanah ke  gas. Televisi memiliki kemampuan yang baik
untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media lainnya. Televisi
lebih bisa menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis.

3.2
Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Masyarakat

Sekarang
ini banyak sekali tayangan televisi yang sebenarnya merupakan duplikasi dari
acara luar negeri. Dalam hal ini perusahaan televisi swasta di Indonesia hanya
membeli lisensi dari luar negeri untuk menyangkan acara yang sama. Melalui
acara-acara yang sebagian besar diimpor, televisi memasyarkatkan nilai budaya
asing yang longgar dan serba boleh, termasuk kepada masyarakat pedesaan yang
sebenarnya memandan sebagian besar acara TV swasta tidak relevan dengan
kebutuhan mereka . sehingga karen berondongan pesan yang asing itu, masyarakat
pedesaan mengalami geger budaya.

Sinetron
remaja[4]
yang ramai ditayangkan di televisi Indonesia didominasi oleh konflik-konflik
yang tidak menggambarkan kehidupan santun sesuai budaya bangsa. Alur cerita
yang diisi dengan perebutan pacar, sikap hidup konsumtif,gaya hidup konsumtif
dan melawan kepada orang tua. Hal ini dapat merusak moral generasi penerus
bangsa dan menanamkan nilai tertentu yang mempengaruhi budaya dalam masyarakat.

Disisi
lain media televisi adalah organisasi profit yang sangat tergantung oleh
lingkungan orgganisasinya. Lingkungan yang dihadapi oleh media adalah
lingkungan yang dinamis, sumberdaya kurang persaingan yang ketat sehingga media
televisi harus mampu membaca keinginan dan lingkungan pasar. Sebagai sebuah
perusahaan yang berorientasi pada pemaksimalan keuntungan maka stasiun televisi
sangat dituntut agar dapat mengembangkan kreativitas mereka untung menjaring
iklan sebanyak-banyaknya, dalam hal ini masing-msaing stasiun televisi memiliki
tekniknya masing-masing. Sehingga masyarakat pun bisa terpengaruh oleh iklan
mereka dan menyaksikan tayangan televisi yang mereka tampilkan, terlebih lagi
masyarakat menjadi menggunakan barang/jasa yang diklankan tersebut.

BAB
IV

PENGARUH TELEVISI TERHADAP SITEM
KOMUNIKASI

Redi
Panuju (1997), menjelaskan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi indonesia
haruslah membahas dua hal, yaitu pertama sistem komunnikasi di Indonesia
mempunyai makna pola-pola komunikasi yang secara idealistic dan normative
diharapkan ada dan terjadi di Indonesia. Bahasan mengacu pada nilai-nilai,
norma-norma, dan hukum yang merumuskan bagaimana komunikasi dijalankan atau
terjadi. Kedua sistem komunikasi Indonesia mempunyai makna deskriptif dari
gejala komunikasi yang actual, sedang terjadi di Indonesia. Bahasan mengacu
pada fakta-fakta empiris yang secara objektif benar-benar ada atau terjadi.

Pemerintah
tidak memiliki sistem komunikasi untuk memberdayakan masyarakat yang seharusnya
ada sistem komunikasi nasional, sehingga dapatlah dibicarakan sub sistem media
cetak dan siaran agar tidak tejadi tumpang tindih. Televisi Republik Indinesia
(TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI) menyalurkan informasi tentang
kebijakan pemerintah agar diketahui oleh masyarakat. Karena itu kurang baik
apabila TVRI dan RRI diswastakan, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan
televisi dan radio swasta. Kebanyakan dari stasiun televisi swasta lebih
mengutamaka dalam perolehan keuntungan dariada pesan yang disampaikan.

Hal
ini terlihat dari data pada Tabel 1. yang menunjukan dari tahun ke tahun
meningkatnya jumlah perolehan hasil iklan dari stasiun televisi saat itu.
Sehingga mempengaruhi sistem komunikasi massa yang ada di Indonesia karena
informasi yang di sampaikan dari televisi sebagai media massa tidak seluruhnya
sampai kepada masyarakat, disebabkan adanya dominasi tujuan dari perusahaan
televisi tersebut lebih kepada meraih keuntungan dari pada menyampaikan
informasi. Tayangan televisi sekarang pun lebih banyak kepada tayangan yang
bersifat hiburan daripada tentan pendidikan, lingkungan, yang lebih banyak
memiliki manfaat. Karena seperti yang dikatakan diawal banyak acara televisi
sekarang mengadopsi acara televisi dari luar negeri yang berbeda sistem
komunikasinya dengan Negara kita.

Tabel
1. Perolehan Iklan Televisi di Indonesia Tahun 1999 sampai 2003 (dalam juta
rupiah)

Stasiun 1999

(%)

2000

(%)

2001

(%)

2002

(%)

2003

(%)

SCTV 885.998 (25,7) 1.214.666 (24,6) 1.591.885 (24,8) 1.712.839

(20,4)

2.072.831 (17,8)
RCTI 954.728 (27,7) 1.251.815 (25,4) 1.420.508 (23,5) 1.878.807 (22,4) 2.050.746 (17,6)
Indosiar 937.712 (24,3) 1.330.996 (27,0) 1.609.870 (26,6) 1.898.224 (26,6) 1.949.476 (16,7)
Trans TV _ _ _ 652.061

(7,8)

1.388.302 (11,9)
TPI 446.832 (13,0) 819.958 (16,6) 905.144 (14,9) 916.807 (10,9) 936.565 (8,0)
TV7 _ _ 22.183

(0,4)

205.226

(2,4)

838.516 (7,2)
Global TV _ _ _ 311.208

(3,7)

742.824 (6,4)
Metro TV _ 17.788

(0,4)

243.004

(4,0)

438.085

(5,2)

521.806 (4,5)
LATIVI _ _ _ 155.526

(1,9)

502.984 (4,3)
ANTV 323.369

(9,4)

297.816

(0,6)

331.001

(5,5)

158.967

(1.9)

449.236 (3,9)
JTV _ _ 23.276

(0,4)

54.336

(0,6)

148.337 (1,3)
TVRI _ _ _ _ 44.677

(0,4)

Bali TV _ _ _ _ 13.307

(0,1)

Total 3.548.683 (100) 4.933.039 (100) 6.146.871 (100) 8.382.086 (100) 11.659.607 (100)

Sumber : Media scence, 2003-2004 dalam
Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, Mahfud Mufid. Jakarta:    Kencana Prenada Media Group.(2005)

BAB
V

Organisasi Profit yang sanggat dipengaruhi lingkungan
yang dinamis dan persaingan yang ketat

KERANGKA
PEMIKIRAN

  • ·
    Tayangan berpengaruh terhadap budaya
    masyarakat
  • ·
    Perusahaan televisi  berpengaruh terhadap sistem komunikasi
Lebih mengutamakan keuntungan daripada tujuan sistem
komunikasi yang ada
MEDIA KOMUNIKASI MASSA
HASIL DARI KEBUDAYAAN
TELEVISI

BAB
VI

PENUTUP

6.1
Kesimpulan

Televisi
tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan sehari-hari. Didukung dengan
beragam kemajuan teknologi semakin memudahkan masyarakat mengakses siaran
televisi, menjadikannya sebagai salah satu
media massa yang paling banyak di akses oleh masyarakat. Sehingga, baik
secara langsung maupun tidak langsung televisi dapat mempengaruhi budaya
masyarakat yang semakin hari semakin berubah dan dapat mempengaruhi tujuan dari
sistem komunikasi yang ada di Indonesia, yang awalnya untuk memberikan
informasi dan wawasan kepada masyarakat menjadi alat mencari keuntungan oleh
perusahaan pertelevisian.

5.2
Saran

Melihat
begitu kuatnya pengaruh televisi bagi kehidupan masyarakat maka ada baiknya
apabila :

1.
Tayngan televisi lebih didsesuaikan
dengan nilai budaya bangsa

2.
Tayangn televisi lebih disesuaikan dalam
hal jam  tayang dan  terdapat segmentasi acara yang tepat

3.
Stasiun televisi harus menyesuaikan  sistem komunikasi yang ada di Indionesia

4.
Perusahaan televisi juga harus
menyesuaikan dengan tujua sistem komunikasi

5. Kita
sebagai Konsumen juga harus lebih meningkatkan pemahaman kita tentang tayangan
televisi yang pada akhirnya kita bisa dengan bijak memahami dan  memaknai tayangan televisi

DAFTAR
PUSTAKA

Effendy,
Onong U.2008. Dinamika Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hoffman,
Ruedi. 1999. Dasar-dasar Apresiasi
Program Televisi
. Jakarta: Grasindo.

Koentjaraningrat.2002. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mufid,
Mahfud. 2005. Komunikasi dan Regulasi
Penyiaran
.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mulyana,
Deddy.2008. Komunikasi Massa:
Kontroversi, Teori dan Aplikasi
. Bandung: Widya Padjajaran.

Panuju, Redi. 1997. Sistem Komunikasi Indonesia.
Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Rakhmat,
Jalaludin. 1998. Psikologi Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumarwan,
Ujang.2004. Perilaku Konsumen: Teori dan
Penerapannya dalam Pemasaran
. Bogor: Ghalia Indonesia.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah kependudukan merupakan masalah yang penting dalam pembangunan suatu negara. Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lain-lain yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Data tentang jumlah penduduk dapat diketahui dari hasil Sensus Penduduk (SP). Sensus penduduk yang telah dilakukan selama ini adalah SP 1930, SP 1961, SP 1971, SP 1980, SP 1990, SP 2000, dan yang saat ini sedang berlangsung Sensus Penduduk 2010. Untuk memenuhi kebutuhan data antara dua sensus, Badan Pusat Statistik melaksanakan Survey Penduduk Antar Sensus (Supas) tiap-tiap tahun yang akhiran dengan angka lima, kecuali Supas 1976. Selama ini telah dilaksanakan Supas 1985, Supas 1995 dan yang terakhir adalah Supas 2005[1].

Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah desa di Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat. Padahal luas wilayah desa tersebut tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada. Hal ini tentu saja akan berpengaruh dalam pembangunan di desa tersebut. Oleh sebab itu makalah dengan topik “Analisis Perkembangan Data Kependudukan dan Demografi Penduduk (Kasus Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat Tahun 2008 dan 2009)” ini diangkat untuk mengetahui permasalahan tentang perkembangan kependudukan dan demografi di Desa Situdaun.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belaang yang telah kami uraikan di atas, perumusan masalah yang dapat diidentifikasi adalah:

  1. Bagaimana mekanisme registrasi dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan registrasi penduduk di Desa Situdaun?
  2. Bagaimana perkembangan penduduk Desa Situdaun?
  3. Bagaimana persebaran dan kepadatan penduduk Desa Situdaun?
  4. Bagaimana struktur penduduk Desa Situdaun?

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas adalah:

  1. Mengetahui mekanisme registrasi dan kendala-kendala dalam pelaksanaannya di Desa Situdaun.
  2. Menganalisis perkembangan penduduk yang terjadi di Desa Situdaun.
  3. Menganalisis persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Situdaun.
  4. Menganalisis dan menjelaskan struktur penduduk di Desa Situdaun.

2.

1.4. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran kependudukan dan demografi yang terjadi di Desa Situdaun serta manfaat bagi akademisi dalam menambah pengetahuan tentang kependudukan dan sebagai bahan referensi. Selain itu makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah sebagai pembahasan lebih lanjut dalam hal kependudukan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demografi

Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu[2].

Sumber-sumber data kependudukan/demografi yang pokok ialah sensus, sistem registrasi kejadian-kejadian vital, registrasi penduduk dan survei-survei terbatas atau survei sampel. Sumber lain sebagai tambahan yang sering berguna adalah catatan-catatan dan dokumen-dokumen instansi pemerintah. Diantara sumber-sumber ini, sensus merupakan sumber data yang paling utama di berbagai Negara, terlebih-lebih di Negara berkembang.

2.2. Komponen Demografi

  1. 1. Mortalitas

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9,5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu[3].

  1. 2. Fertilitas

Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping migrasi masuk. Kelahiran bayi membawa konsekuensi pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang bayi tersebut, termasuk pemenuhan gizi dan kecukupan kalori, perawatan kesehatan. Pada gilirannya, bayi ini akan tumbuh menjadi anak usia sekolah yang menuntut pendidikan, lalu masuk angkatan kerja dan menuntut pekerjaan. Bayi perempuan akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan perempuan usia subur yang akan menikah dan melahirkan bayi[4].

  1. 3. Migrasi

Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu bioma ke bioma lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-sumber cadangan makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau karena overpopulasi.[5]

2.3. Sensus Penduduk dan Sistem Registrasi Penduduk

Sensus diartikan sebagai perhitungan penduduk yang mencakup wilayah suatu negara (Baclay dalam Rusli, 1995). Kegiatan ini dilakukan dengan cara pencacahan langsung ke setiap rumah tangga. Sensus dilakukan antara lain dengan cara:

  • Sistem de jure, yaitu mencacah penduduk menurut tempat tinggal tetap.
  • Sistem de facto, yaitu melakukan pencacahan di tempat orang tersebut ditemukan saat pelaksanaan sensus.
  • Sistem kombinasi dari keduanya.

Sistem registrasi penduduk dipelihara oleh pemerintah setempat dengan pencatatan kelahiran, kematian, adopsi, perkawinan, perceraian, perubahan pekerjaan, perubahan nama, dan perubahan tempat tinggal.

2.4. Permasalahan Demografi

Mukhlason (2010)[6] mengidentifikasi beberapa permasalahan demografi, antara lain:

  1. 1. Sebaran Migrasi dan Profesi

Dalam hal ini Mukhlason memberi gambaran bahwa kebanyakan masyarakat dari desa bermigrasi ke kota karena lapangan pekerjaan di kota lebih banyak dari pada di desa. Dari gambaran ini terlihat adanya ketidakmerataan sebaran penduduk akibat migrasi serta adanya ketidakmerataan jumlah lapangan pekerjaan antara kota dan desa.

  1. 2. Kendala Kependudukan

Akibat adanya migrasi dari desa ke kota, desa mengalami kelangkaan jumlah penduduk. Hal ini menjadi penyebab lambatnya pembangunan dan kenaikan tingkat kesejahteraan. Rumah tangga yang dahulunya memiliki warga rata-rata 5 orang, kini semakin berkurang seiring semakin dewasanya anak-anak. Dengan fasilitas pendidikan yang terbatas serta fasilitas untuk mencari penghidupan yang sedemikian rupa, orang tua yang berorientasi pada masa depan selalu mengirimkan anak-anaknya untuk mencari ilmu dan nafkah di daerah lain yang memungkinkan.

Selain terbatasnya fasilitas, keberhasilan program Keluarga Berencana yang digalakkan pada masa orde baru cukup memberi andil pada pengurangan jumlah penduduk. Permasalahan lain, adalah semakin banyaknya populasi lansia yang tidak diimbangi oleh penduduk usia produktif. Ini berakibat pada semakin berkurangnya tenaga-tenaga yang biasa mengerjakan profesi pertanian dan perkebunan. Padahal rata-rata penduduk desa memiliki lahan perumahan, perkebunan atau persawahan yang tentunya tidak bisa dikerjakan sendiri.

  1. 3. Konversi Lahan

Lahan yang dulunya digunakan untuk lahan pertanian, saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri. Dengan keterbatasan jumlah lahan, manusia semakin kesulitan memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhannya akan pangan. Hal ini dikarenakan lahan yang tadinya berupa sawah, ladang, dan perkebunan telah dialihfungsikan. Hal ini sesuai dengan hukum Maltus yang berbunyi

“Penduduk cenderung tumbuh secara “deret ukur” (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara “deret hitung” (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dalam terbitan belakangan Malthus berkata bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan kejeblos ke dalam kemiskinan dan kelaparan”[7]

2.5. Usaha-usaha Pemerintah Mengatasi Pertambahan Penduduk[8]

  1. 1. Program KB

Keluaga Berencana adalah suatu program yang dilaksanakan untuk membangun keluarga yang sejahtera dengan jalan mengurangi angka kelahiran anak. Adapun anjuran KB adalah dengan memiliki dua anak, baik laki-laki maupun perempuan. Program KB dimaksudkan untuk menekan laju pertambahan penduduk. Dalam pengertian secara efektif untuk mencegah kehamilan. Dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

  1. 2. Sosialisasi Perencanaan Pernikahan yang Matang

Meningkatnya usia kawin dan kemajuan pendidikan mempengaruhi pula pertambahan penduduk di Indonesia. Semakin rendah usia kawin seorang wanita maka semakin tinggi tingkat fertilitasnya, sedangkan semakin tinggi usia kawin seorang wanita maka akan semakin rendah tingkat fertilitasnya.
Faktor paling dominan dalam meningkatnya usia pernikahan/perkawinan adalah meningkatnya pendidikan kaum wanita. Pendidikan mempengaruhi pola pergaulan, pemilihan jodoh, dan umur perkawinan. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka mereka akan berpikir matang untuk melakukan pernikahan, mereka tidak lagi takut ketinggalan dalam hal karier dengan kaum pria, tidak lagi takut dengan anggapan tidak laku dan mereka akan tegas pula dalam pengambilan keputusan apabila wanita tersebut sudah menikah.

  1. 3. Sosialisasi Kepada Kaum Remaja Tentang “SAY NO FREE SEX”

Sejalan dengan perubahan-perubahan sosial, ekonomi, politik, dan komunikasi dewasa ini, terjadi perubahan-perubahan mengenai perilaku sex dan norma-norma sex. Di Indonesia secara umum kecenderungan ke arah yang lebih permisif dalam hal sex, baik remaja maupun golongan umur yang lebih tinggi terus berlangsung, baik di tingkat individu dan masyarakat. Konsekuensi dari hal itu adalah remaja pada masa kini jauh lebih banyak mendapatkan rangsangan sex daripada remaja 10 tahun yang lalu. Maka pemerintah mengadakan tindakan sosialisasi ke SMP dan SMA yang ada di Indonesia, tentang apa itu free sex, dan bahaya-bahayanya bagi remaja.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang kami gunakan adalah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang kami anggap memiliki informasi mengenai objek penelitian kami. Selain itu, kami juga menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis data-data kependudukan yang kami peroleh dari wawancara.

3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Situdaun Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat pada tanggal 26 Mei 2010.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui analisis hasil wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dengan menelusuri beberapa studi pustaka berupa artikel, data statistik, internet, dan literatur yang berhubungan dalam menganalisis data kependudukan yang telah diperoleh di lapangan.

3.4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan adalah menghitung data yang telah diperoleh sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan telah ditetapkan. Setelah itu hasil perhitungan dianalisis dan disesuaikan dengan teori yang telah ada. Kemudian hasil analisis tersebut kami jadikan laporan dan diubah dalam bentuk tertentu agar lebih mudah menggambarkan hasil penelitian.

BAB IV

PEMBAHASAN

1.

2.

3.

4.

4.1. Gambaran Umum Desa Situdaun

Desa Situdaun terletak di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Luas Desa : 329,045 Ha

Terdiri atas:

-          Darat        : 159,000 Ha

-          Sawah      :170,045 Ha

  • Batas Wilayah

-          Sebelah Utara      : Kecamatan Ciampea

-          Sebelah Selatan   : Desa Gunung Malang

-          Sebelah Timur      : Kecamatan Darmaga

-          Sebelah Barat      : Desa Cibitung

4.2. Ketersediaan Data dan Sistem Registrasi Penduduk Desa Situdaun

Tenjolaya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten BogorPropinsi Jawa Barat. Tenjolaya merupakan kecamatan hasil pemekaran dengan Kecamatan Ciampea pada tahun 2004, di dalam Kecamatan Tenjolaya terdapat suatu desa yang bernama Situdaun. Ketersedian data penduduk Desa Situdaun merupakan hasil dari proses wawancara yang di himpun melalui RT RW setempat. Ketersedian data juga diperoleh berdasarkan laporan dari instansi terkait seperti artikerl, data statistik, internet, leteratur serta data yang disiapkan dari berbagai sumber.

Sistem registrasi penduduk Desa Situdaun baik lokal maupun pendatang harus melapor kepada RT setempat, setelah itu melaporkan hasil registrasi ke kantor kelurahan Desa Situdaun. Tidak hanya registrasi penduduk desa yang datang ke Desa Situdaun, akan tetapi masyarakat yang keluar dari desa tersebut pun diwajibkan melapor ke kantor kelurahan desa. Masyarakat yang melahirkan dan yang meninggal dunia pun melapor, sehingga data jumlah penduduk di desa tersebut terpantau oleh kelurahan desa.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.

4.1.

4.2.

4.3. Data Penduduk

Data Penduduk Desa Situdaun Tahun 2008 dan 2009

Tabel 1. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2008 (dalam jiwa)

Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 287 290 3,4% 3,4% 577 577
5-9 268 282 3,1% 3,3% 550 1127
10-14 271 296 3,2% 3,5% 567 1694
15-19 448 396 5,2% 4,6% 844 2538
20-24 271 310 3,2% 3,6% 581 3119
25-29 327 364 3,8% 4,3% 691 3810
30-34 381 375 4,5% 4,4% 756 4566
35-39 389 330 4,5% 3,9% 719 5285
40-44 362 304 4,2% 3,6% 666 5951
45-49 297 293 3,5% 3,4% 590 6541
50-54 294 313 3,4% 3,7% 607 7148
55-59 332 335 3,9% 3,9% 667 7815
60-64 191 126 2,2% 1,5% 317 8132
65-69 178 112 2,1% 1,3% 290 8422
70-74 63 45 0,7% 0,5% 108 8530
75+ 14 11 0,2% 0,1% 25 8555
Jumlah 4373 4182 51,1% 48,9% 8555

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 2. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2009 (dalam jiwa)

Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 351 357 4,1% 4,2% 708 708
5-9 296 382 3,4% 4,4% 678 1386
10-14 329 375 3,8% 4,3% 704 2090
15-19 380 357 4,4% 4,2% 737 2827
20-24 371 394 4,3% 4,6% 765 3592
25-29 357 360 4,2% 4,2% 717 4309
30-34 334 330 3,9% 3,9% 664 4973
35-39 426 274 5,0% 3,2% 700 5673
40-44 268 223 3,1% 2,6% 491 6164
45-49 289 211 3,4% 2,5% 500 6664
50-54 138 173 1,6% 2,0% 311 6975
55-59 335 359 3,9% 4,2% 694 7669
60-64 250 228 2,9% 2,7% 478 8147
65-69 162 118 1,9% 1,4% 280 8427
70-74 79 74 1,0% 0,8% 153 8580
75+ 15 6 0,1% 0,2% 21 8601
Jumlah 4380 4221 8601

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 3. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Kejadian Demografi Penduduk

Kejadian Demografi Tahun 2008 Tahun 2009
Kelahiran 63 orang 25 orang
Kematian 10 orang 16 orang
Imigrasi 8 orang 10 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 4. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Agama

Agama Tahun 2008 Tahun 2009
Islam 8550 8579
Katholik 2 2
Protestan 2 -
Hindu - -
Budha - -
Khonghucu 1 -

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 5. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Tahun 2008 Tahun 2009
TK 145 orang 160 orang
SD/MI 1541 orang 2789 orang
MTS/SLTP 926 orang 1668 orang
MA/SLTA 903 orang 895 orang
D2/D3 74 orang 31 orang
S1/Sarjana 21 orang 18 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Terlihat jelas bahwa masyarakat Desa Situdaun tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Dari tabel, sebanyak 2789 masyarakat Desa Situdaun yang mengenyam pendidikan sampai SD.

Tabel 6. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Mata Pencaharian

Mata Pencaharian Tahun 2008 Tahun 2009
PNS 26 orang 26 orang
ABRI 2 orang 2 orang
Wiraswasta 201 orang 160 orang
Tani 275 orang 275 orang
Buruh Tani 480 orang 312 orang
Pertukangan 37 orang 36 orang
Pensiunan 21 orang 17 orang
Jasa 4 orang 14 orang
Lain-lain 121 orang 429 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Hasil wawancara yang kami dapatkan dari pengurus kelurahan desa bahwa mata pencaharian di Desa Situdaun kebanyakan adalah seorang buruh petani. Cukup banyak sawah di desa tersebut, meskipun sudah banyak desa yang dibangun rumah-rumah penduduk, akan tetapi sawah disana kebanyakan bukan milik warga setempat, akan tetapi milik masayarakat kota diluar masyarakat Desa Situdaun. Masyarakat Desa Situdaun bekerja di sawah hanya seabagi buruh tani saja, karena sawah yang mereka garap bukanlah sawah mereka, akan tetapi ada juga beberapa warga desa yang memiliki sawah di Desa tersebut. Namun, banyak juga pemuda desa yang bekerja sebagai pengrajin, contohnya pengrajin anyaman bambu.

Tabel 7. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Etnis

Etnis Laki-Laki Perempuan
Batak 3 orang 1 orang
Betawi 1 orang 1 orang
Sunda 4362 orang 4175 orang
Jawa 6 orang 4 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.

4.1.

4.2.

4.3.

4.4. Analisis Perkembangan Penduduk Desa Situdaun

Penduduk Desa Situdaun dalam perkembangannya mengalami sedikit peningkatan.

Tahun 2008

  • Reit Kematian Kasar:

CDR=  x 1000

=  x 1000

=2,3

=3

Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat 3 orang yang meninggal.

  • Reit Kelahiran Kasar

CBR=  x 1000

=  x 1000

=14,7

=15

Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat kelahiran sebanyak 15 orang.

  • Proporsi wanita                       Dalam presentase = 0,489 x 100 %

P =                                             = 48,9%

=

= 0,489

  • Rasio anak wanita

RAW  x 100

=  x 100

= 11,9

=12

Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 12 orang anak.

  • Rasio beban tanggungan

RBT =  x 100

=   x 100

=  x 100

= 32,88

= 33

Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 33 penduduk usia non produktif.

  • Umur median

UM      =  x k

=30 +   x 5

=30 +  x 5

=30 +

=30 + 3,09

= 33,09

Tahun 2009

  • Reit Kematian Kasar:

CDR=  x 1000

=  x 1000

=

Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat orang yang meninggal.

  • Reit Kelahiran Kasar

CBR=  x 1000

=  x 1000

=

Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat kelahiran sebanyak orang.

  • Proporsi wanita                       Dalam presentase = x 100 %

P =                                             = %

=

=

  • Rasio anak wanita

RAW  x 100

=  x 100

=

=

Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 12 orang anak.

  • Rasio beban tanggungan

RBT =  x 100

=   x 100

=  x 100

= 32,88

= 33

Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 33 penduduk usia non produktif.

  • Umur median

UM      =  x k

=30 +   x 5

=30 +  x 5

=30 +

=30 + 3,09

= 33,09

  • Reit Perkembangan Penduduk Desa Situdaun tahun 2008 dan 2009

Pt         = Po (1+r)t Pt =jumlah penduduk pada akhir periode t

Hj                                Po=jumlah penduduk pada awal periode t

J                                   r   =reit perkembangan penduduk per tahun

4.5. Analisis Persebaran dan Kepadatan Penduduk Desa Situdaun

Berdasarkan data yang telah kami peroleh maka persebaran penduduk Desa Situdaun pada tahun 2008 dan 2009 berdasarkan jenis kelamin adalah:

Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 secara keseluruhan adalah:

RJK   x 100

=  x 100

=104,56

=105

Jadi, setiap 100 orang perempuan terdapat 105 orang laki-laki di Desa Situdaun pada tahun 2008.

Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 berdasarkan interval usia adalah:

  • RJK0-4 x 100 =  x 100 =98,96 =99

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 0-4 terdapat 99 laki-laki.

  • RJK5-9 x 100 =  x 100 =95,03 =96

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 5-9 terdapat 96 laki-laki.

  • RJK10-14 x 100 =  x 100 =91,55 =92

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 10-14 terdapat 92 laki-laki.

  • RJK15-19 x 100 =  x 100 =113,13 =114

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 15-19 terdapat 114 laki-laki.

  • RJK20-24 x 100 =  x 100 =87,41 =88

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 20-24 terdapat 88 laki-laki.

  • RJK25-29 x 100 =  x 100 =89,83 =90

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 25-29 terdapat 90 laki-laki.

  • RJK30-34 x 100 =  x 100 =101,6 =102

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 30-34 terdapat 102 laki-laki.

  • RJK35-39 x 100 =  x 100 =117,87 =118

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 35-39 terdapat 118 laki-laki.

  • RJK40-44 x 100 =  x 100 =98,96 =120

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 40-44 terdapat 120 laki-laki.

  • RJK45-49 x 100 =  x 100 =101,36 =102

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 45-49 terdapat 102 laki-laki.

  • RJK50-54 x 100 =  x 100 =93,92 =94

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 50-54 terdapat 94 laki-laki.

  • RJK55-59 x 100 =  x 100 =98,96 =100

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 55-59 terdapat 100 laki-laki.

  • RJK60-64 x 100 =  x 100 =98,96 =99

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 60-64 terdapat 99 laki-laki.

  • RJK65-69 x 100 =  x 100 =158,92 =159

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 65-69 terdapat 159 laki-laki.

  • RJK70-74 x 100 =  x 100 =140

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 70-74 terdapat 140 laki-laki.

  • RJK75+ x 100 =  x 100 =127,27 =128

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 75+ terdapat 128 laki-laki.

Pesebaran penduduk di Desa Situdaun dari data yang diperoleh terdapat 8555 warga tersebar dalam 329,045 Ha/m2 dari luas daerah Desa tersebut.  Terlihat bahwa kepadatan penduduk di Desa Situdaun cukup padat. Seperti yang kami lihat saat berada di desa tersebut, rumah-rumah disana begitu berimpit dan luasnya tidak besar. Kebersihan di desa tersebut pun kurang terjaga, karena terlalu banyak penduduk dan rumah-rumah yang tidak tersusun rapih sehingga pemukiman terlihat sedikit kumuh.

4.6. Analisis Struktur Penduduk Desa Situdaun

Berdasarkan data yang kami peroleh, kami dapat menyajikan piramida penduduk Desa Situdaun pada tahun 2008 dan 2009 sebagai berikut:

Piramida Penduduk Desa Situdaun per 31 Desember 2008

Piramida Penduduk Desa Situdaun per 31 Desember 2008


BAB V

PENUTUP

1.

2.

3.

4.

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran


DAFTAR PUSTAKA


[1] http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/200/200/

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Demografi

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Mortalitas

[4] http://www.scribd.com/doc/13199536/fertilitas

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Migrasi

[6] http://mukhlason.wordpress.com/2010/04/19/permasalahan-demografi-sebaran-penduduk-yang-tidak-merata/ 19-April-2010 diakses pada tanggal 1 Juni 2010.

[7] http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/07/tokoh-thomas-malthus.html 30 Mei 2010, diakses pada tanggal 1 Juni 2010.

[8] http://yuni-wijaya.blogspot.com/2010/05/hubungan-pertumbuhan-penduduk-dengan.html Monday, May 10, 2010

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Berdasarkan data pada tahun 2006, yang diungkapkan oleh Menteri Pembangunan Desa Tertinggal kala itu, diketahui bahwa jumlah desa di Indonesia adalah sekitar 70.611 desa, dan 45 % diantaranya masuk ke dalam kategori desa tertinggal. Untuk meningkatkan pembangunan ekonomi Indonesia, tentunya tak dapat lepas dari pembangunan ekonomi di desa-desa yang ada di negara ini. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dikaji hubungan antara migrasi dan pertumbuhan ekonomi di desa, sejauh mana peranan pembangunan ekonomi desa melalui migrasi sirkuler dapat meningkatkan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Goldscheider (1985) menggambarkan adanya variasi tipe-tipe migrasi yang kompleks dalam struktur sosial suatu masyarakat. Oleh karena itu, perubahan struktur sosial masyarakat tidak hanya mengubah pola-pola migrasi, tetapi perubahan migrasi secara perlahan-lahan bisa mengubah struktur sosial masyarakat di suatu komunitas atau kelompok-kelompok sosial yang berbeda.

Menurut Todaro(2004), migrasi adalah suatu proses perpindahan sumber daya manusia dari tempat-tempat yang produk marjinal sosialnya nol ke lokasi lain yang produk marjin sosialnya bukan hanya positif, tetapi juga akan terus meningkat sehubungan dengan adanya akumulasi modal dan kemajuan teknologi.

Pelaku migrasi sirkuler sebagian besar terdiri dari: buruh tani, penduduk pedesaan yang bukan petani (pedaganng, tukang dengan keterampilan tertentu, buruh serabutan), dan penganggur (tanpa pendidikan dan/atau dengan sedikit bekal pendidikan). Di samping itu, diantara mereka terdapat pula petani kecil/ gurem dan/atau petani yang tidak bertanah (punya tanah dan punya modal) yang turut ambil bagian dalam kegiatan migrasi sirkuler ini.

Terkait dengan ulasan di atas migrasi dapat menyebabkan adanya transformasi sosial-ekonomi. Transformasi sosial-ekonomi dapat didefinisikan sebagai “proses perubahan susunan hubungan-hubungan sosial-ekonomi (sebagai akibat pembangunan). Lee (1966) dalam teorinya “ Dorong – Tarik” (Push-Pull Theory) berpendapat bahwa migrasi dari desa ke kota disebabkan oleh faktor pendorong di desa dan penarik di kota. Teori tersebut menerangkan tentang proses pengambilan keputusan untuk bermigrasi yang dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan, faktor-faktor rintangan, dan faktor-faktor pribadi. Faktor-faktor yang terdapat didaerah asal dan tujuan dibedakan menjadi tiga, yaitu: faktor-faktor daya dorong (push factor), faktor-faktor daya tarik (pull factor), dan faktor-faktor yang bersifat netral (neutral).

Faktor-faktor yang bersifat netral pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap pengembilan keputusan untuk bermigrasi. Todaro (2004) menjelaskan bahwa pertumbuhan migrasi dari desa ke kota yang terus menerus meningkat merupakan penyebab utama semakin banyaknya pemukiman-pemukiman kumuh di perkotaan, namun sebagian lagi disebabkan lagi oleh pemerintah di masing-masing negar paling miskin. Sadar atau tidak mereka juga turut menciptakan pemukiman kumuh tersebut. Maka dari itu, kebanyakan warga desa memilih untuk melakukan migrasi sirkuler. Dalam makalah ini akan dibahas lebih dalam faktor dan dampak migrasi sirkuler di desa dan pengaruhnya terhadap pembangunan ekonomi secara nasional.

I.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini ialah :

  1. Mengapa migrasi sirkuler menjadi faktor penting bagi peningkatan ekonomi desa?
  2. Apa dampak yang dihasilkan dari migrasi sirkuler terhadap peningkatan ekonomi desa?
  3. Sejauh mana peningkatan ekonomi desa bisa meningkatkan pembangunan ekonomi Indonesia?

I.3 Tujuan Penulisan

Dari rumusan maslah yang ada tujuan penulisan makalah ini, yaitu:

  1. Untuk mengetahui alasan migrasi sirkuler merupakan faktor penting bagi peningkatan ekonomi desa.
  2. untuk mengetahui dampak dari migrasi sirkuler terhadap peningkatan ekonomi desa.
  3. Untuk menjadikan migrasi sirkuler sebagai salah satu solusi bagi pembangunan ekonomi nasional berbasis kemajuan ekonomi desa.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pentingnya Peningkatan Perekonmian Desa

Masyarakat desa sebagai dasar awal dalam pembangunan di Indonesia, sampai saat ini masih sering terlupakan. Masyarakat desa pada umumnya sebagian besar dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Pemenuhan akan kebutuhan mereka pun rasanya masih sulit untuk terpenuhi. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pembangunan ekonomi suatu negara tidak lepas dari pembangunan bagian kecilnya sekalipun, yaitu desa. Kemajuan perekonomian desa-desa dan semua wilayah atau dengan kata lain pemerataan kemajuan ekonomi merupakan target penting dalam pembangunan ekonomi negara.

Kondisi desa saat ini pun masih cukup memprihatinkan, sekitar 45% desa di Indonesia masih masuk dalam kategori tertinggal (yusuf, 2006). Oleh karena itu, kemajuan perekonomian desa memiliki andil yang cukup besar, dan salah satu solusi yang kami tawarkan untuk memajukan perekonomian desa untuk mencapai keseimbangan kesempatan ekonomi antara desa dan kota adalah dengan migrasi sirkuler. Karena peningkatan ekonomi desa yang dilakukan dengan kesadaran penuh tiap individu yang berada di dalamnya akan membangun sistem perekonomian yang lebih maju dan kuat, dimana ini bisa terbentuk dengan adanya migrasi sirkuler yang terencana.

2.2 Pentingnya Migrasi Sirkuler sebagai Faktor Peningkatan Ekonomi Desa

Menurut Kartomo (Wirosuhadjo, 1981:116) definisi migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari satu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/ Negara ataupun batas administratif/ batas bagian Negara. Selanjutnya Kartomo mengatakan bahwa apabila seseorang tidak bermaksud menetap di daerah yang didatangi dan telah tinggal di daerah itu kurang dari tiga bulan, maka orang tersebut dapat digolongkan dalam migrasi sirkuler. Sementara Hadi Supadmo(1991:2) mendefinisikan  mobilitas sirkuler adalah penduduk yang bekerja di luar wilayah desanya dan pulang kembali setelah minimal dua hari dan maximal enam bulan baik secara teratur maupun tidak. Batas waktu  minimal dua hari untuk membedakan dengan mobilitas ulang-alik dan batas waktu maximal enam bulan untuk membedakan dengan migran menetap. Mantra (1988), menyatakan bahwa batasan tempat dan waktu tersebut lebih banyak ditentukan berdasarkan kesepakatan.

Mobilitas atau perpindahan penduduk merupakan bagian integral dari proses pembangunan secara keseluruhan. Mobilitas telah menjadi penyebab dan penerima dampak dari perubahan dalam struktur ekonomi dan sosial suatu daerah. Oleh sebab itu, tidak terlalu tepat untuk hanya menilai semata-mata aspek positif maupun negatif dari mobilitas penduduk terhadap pembangunan yang ada, tanpa memperhitungkan pengaruh kebaikannya. Tidak akan terjadi proses pembangunan tanpa adanya mobilitas penduduk. Tetapi juga tidak akan terjadi pengarahan penyebaran penduduk yang berarti tanpa adanya kegiatan pembangunan itu sendiri.

Lee (1966) dalam teorinya “ Dorong – Tarik” (Push-Pull Theory) berpendapat bahwa migrasi dari desa ke kota disebabkan oleh faktor pendorong di desa dan penarik di kota. Teori tersebut menerangkan tentang proses pengambilan keputusan untuk bermigrasi yang dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan, faktor-faktor rintangan, dan faktor-faktor pribadi. Faktor-faktor yang terdapat didaerah asal dan tujuan dibedakan menjadi tiga, yaitu: faktor-faktor daya dorong (push factor), faktor-faktor daya tarik (pull factor), dan faktor-faktor yang bersifat netral (neutral). Faktor-faktor yang bersifat netral pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap pengembilan keputusan untuk bermigrasi.

Desa sangat erat hubungannya dengan kemiskinan, karena perekonomian di desa dipandang sangat tertinggal dibandingkan dengan di kota. Tidak hanya itu, sumber daya yang ada di desa baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia dianggap tidak memiliki prospek yang bagus untuk kemajuan desa. Sektor  pertanian biasanya merupakan mata pencahariaan utama di desa, namun pada kenyataannya kini sektor pertanian sudah tidak dapat menyejahterakan warga desa lagi.

Mantra (1981), juga menyebutkan adanya kekuatan yang mendorong penduduk untuk pergi ke daerah lain (kekuatan sentrifugal), yaitu ; ketidakpuasan pendapatan di bidang pertanian, kurangnya kesempatan kerja dan keterbatasan fasilitas. Rusli (1982), menambahkan bahwa tingkat upah yang rendah dari pekerjaan-pekerjaan pertanian mendorong penduduk desa untuk cenderung mencari pekerjaan-pekerjaan non pertanian seperti pekerjaan di bidang industri. Intinya adalah ketidakpuasaan terhadap upah atau pendapatan yang diperoleh di tempat asal mendorong seseorang pergi ke kota dan berharap akan mendapatkan upah yang lebih baik.

Setelah sebagian besar warga desa melakukan migrasi ke kota, ternyata mereka tidak tahan berlama-lama hidup di kota. Hal ini bisa jadi karena desa memiliki penahan yang kuat sebagai tempat tinggal, hal tersebut disebabkan adanya ikatan keluarga, biaya hidup murah, dan dapat bercocok tanam.  Sementara Mantra (1981) dalam penelitiannya di Daerah Istimewa Yogyakarta, meyebutkan adanya kekuatan yang menahan penduduk untuk tetap tinggal di desa (kekuatan sentripetal) yaitu; 1. Ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang erat, yang tercermin dari semboyan “Mangan ora mangan waton kumpul”, 2. Sistem gotong royong yang kuat, yakni tiap warga desa merasa mempunyai tugas moral untuk saling membantu warga desa yang lain, 3. Pemilikan tanah pertanian memberikan status yang tinggi, karena itu enggan meninggalkan desa untuk menetap di daerah lain, 4. Ikatan batin dengan leluhur mereka, dilakukan dengan mengunjungi makam leluhur setiap bulan ruwah (sya’ban) dan lebaran (syawal), dan 5. Ongkos transportasi yang tinggi bila dibandingkan dengan pendapatan mereka. Lebih lanjut Mantra (1981) menyebutkan bahwa untuk mengatasi kedua kekuatan ini maka penduduk desa memilih jalan tengah yaitu dengan migrasi sirkuler.

Dari berbagai macam penjelasan tentang keterkaitan antara migrasi sirkuler dan peningkatan ekonomi di desa, dapat dikatakan bahwa migrasi sirkuler menjadi pilihan yang efektif bagi peningkatan ekonomi desa. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan pendapatan dari para pelaku migrasi sirkuler yang setiap bulannya selalu dikirimkan kepada keluarga mereka di desa. Dari uang kiriman para imigran tersebut terlihat adanya peningkatan GDP desa dan peningkatan taraf hidup masyarakat desa. Sebagian besar uang kiriman tersebut digunakan untuk memperbaiki kebutuhan dasar mereka, seperti ; pangan, sandang, dan papan. Selebihnya uang tersebut digunakan untuk memperbaiki infrastruktur desa.

2.3 Dampak Migrasi Sirkuler terhadap Peningkatan Ekonomi Desa

Migrasi sirkuler muncul untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa. Adanya migrasi dapat menyebabkan adanya transformasi sosial-ekonomi. Transformasi sosial-ekonomi dapat didefinisikan sebagai “proses perubahan susunan hubungan-hubungan sosial-ekonomi (sebagai akibat pembangunan). Desa dirasa perlu memiliki sebuah lembaga keuangan yang berfungsi untuk mengelola keuangan para migran guna membantu peningkatan pembangunan desa agar proses pembangunan terkontrol dengan baik.

Pada dasarnya masyarakat pedesaan (khususnya di Jawa) sebenarnya merasa enggan untuk pergi untuk meninggalkan desanya. Akan tetapi karena mekanisme bekerjanya faktor-faktor di luar kemauan dan kemampuan merekalah maka sebagian dari mereka terpaksa pergi meninggalkan desanya. Oleh karena itu, kepergian mereka dari desa, sebagian besar hanya bersifat sementara.

Perpindahan atau migrasi yang didasarkan pada motif ekonomi merupakan migrasi yang direncanakan oleh individu sendiri secara sukarela (voluntary planned migraton). Para penduduk yang akan berpindah, atau migran, telah memperhitungkan berbagai kerugian dan keuntungan yang akan di dapatnya sebelum yang bersangkutan memutuskan untuk berpindah atau menetap ditempat asalnya. Dalam hubungan ini tidak ada unsur paksaan untuk melakukan migrasi. Tetapi semenjak dasawarsa 1970-an banyak dijumpai pula mobilitas penduduk  yang bersifat paksaan atau “dukalara” atau terdesak (impelled) (Peterson,W:1969). Mobilitas penduduk akibat kerusuhan politik atau bencana alam seperti yang terjadi di Sakel ataupun Horn, Afrika merupakan salah satu contoh. Adanya berbagai tekanan dari segi politik, sosial, ataupun budaya menyababkan individu tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melakukan perhitungan manfaat ataupun kerugian dari aktivitas migrasi tersebut. Mereka berpindah ke daerah baru dalam kategori sebagai pengungsi[1](refugees). Para pengungsi ini memperoleh perlakuan yang berbeda di daerah tujuan dengan migran yang berpindah semata-mata karena motif ekonomi (Beyer, Gunther;1981; Adelman: 1988).

Terdapat dampak positif dan negatif yang diakibatkan oleh  migrasi. Dampak positifnya adalah peningkatan penghasilan para imigran yang berdampak pada peningkatan ;

  1. Kebutuhan dasar,

Sekarang mereka dapat membeli bahan-bahan makanan yang bergizi dalam jumlah yang lebih banyak, mereka juga dapat memperbaiki rumah-rumah mereka yang biasanya menggunakan bilik sekarang sudah menggunakan tembok, baju yang mereka gunakan lebih modern daripada dulu, seperti penggunaan kebaya yang sudah ditinggalkan dan kini mereka mulai menggunakan kaos dan celana jeans, sudah mulai dibangun beberapa lembaga kesehatan seperti puskesmas dan posyandu di desa guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan juga untuk memperbaiki gizi masyarakat. Kesehatan dan pendidikan adalah investasi yang dibuat dalam individu yang sama.

Modal kesehatan yang lebih baik dapat meningkatkan pengembalian atas investasi dalam pendidikan karena: 1. Kesehatan adalah faktor penting atas kehadiran di sekolah; 2. Anak-anak yang sehat lebih berprestasi di sekolah/ dapat belajar secara lebih efisien; 3. Kematian yang tragis pada anak-anak usia sekolah juga meningkatkan biaya pendidikan per tenaga kerja, sementara harapan hidup yang lebih lama akan meningkatkan pengembalian atas investasi dalam pendidikan; 4. Individu yang sehat lebih mampu menggunakan pendidikan secara produktif di setiap waktu dalam kehidupannya.

Modal pendidikan yang lebih baik dapat meningkatkan pengembalian atas investasi kesehatan karena: 1. Banyak program kesehatan bergantung pada berbagai keterampilan yang dipelajari di sekolah (termasuk melek huruf dan angka); 2. Sekolah mengajarkan pokok-pokok kesehatan pribadi dan sanitasi; 3. Dibutuhkan pendidikan untuk membentuk dan melatih petugas pelayanan kesehatan.

Setelah adanya peningkatan pendapatan para imigran, perbaikan efisiensi produktif dari investasi dalam pendidikan dapat meningkatkan pengembalian atas investasi dalam kesehatan yang meningkatkan harapan hidup.

  1. Infrastruktur

Lembaga pengelolaan penghasilan imigran dapat membantu untuk memperbaiki infrastruktur di desa. Pendanaan pembangunan tersebut diperoleh dari iuran yang dikumpulkan secara kolektif oleh lembaga tersebut untuk memperbaiki beberapa  sarana dan prasarana di desa, seperti; jalanan, masjid, gedung sekolah, kantor kepala desa, dan saluran irigasi.

Seperti kasus di Desa Ciasihan, kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Kondisi infrastuktur yang ada di desa pada awalnya sangat buruk, akan tetapi seiring dengan berkembangnya informasi dan semakin luasnya pandangan masyarakat tentang pentingnya sarana dan prasarana. Maka dengan uang yang mereka kumpulkan di Lembaga Keuangan Desa, mereka dapat memperbaiki sedikit demi sedikit prasarana yang ada, seperti, pembuatan WC Umum dan adanya penyaluran air bersih dari gunung melalui selang-selang yang dipasang hingga tempat-tempat penampungan air yang tersedia.

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh migrasi sirkuler terhadap  pembangunan ekonomi di desa adalah memburuknya keseimbangan struktural antara desa dan kota secara langsung dalam dua hal. Pertama di sisi penawaran, migrasi internal secara berlebihan akan meningkatkan jumlah pencari kerja di perkotaan yang melampaui tingkat atau batasan pertumbuhan penduduk, yang sedianya masih dapat didukung oleh segenap kegiatan ekonomi dan jasa-jasa pelayanan yang ada di daerah perkotaan. Lonjakan yang setinggi itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, dan semakin lama semakin sulit diakomodasikan, apalagi proporsi migran berusia muda yang memiliki pendidikan dan keterampilan memadai semakin besar. Kehadiran para pendatang tersebut cenderung melipatgandakan tingkat penawaran tenaga kerja di perkotaan, sementara persediaan tenaga kerja yang sangat bernilai di pedesaan semakin tipis. Kedua, di sisi permintaan, penciptaan kesempatan kerja di daerah perlotaan lebih sulit dan jauh lebih mahal daripada penciptaan lapangan kerja di pedesaan, karena kebanyakan jenis pekerjaan sektor-sektor industri di perkotaan membutuhkan aneka input-input komplementer yang sangat banyak jumlah maupun jenisnya. Di samping itu, tekanan kenaikan upah di perkotaan dan tuntutan karyawan untuk mendapatkan aneka tunjangan kesejahteraan, serta tidak tersedianya aneka teknologi  produksi “tepat guna” yang lebih padat karya juga membuat para produsen enggan menambah karyawan karena sekarang peningkatan output sektor modern tidak harus dicapai melalui peningkatan produktivitas atau jumlah pekerja.

Di samping itu juga adanya penurunan jumlah sumber daya manusia untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sosial atau kegiatan gotong royong guna membangun desa.  Bila hal ini berlangsung terus-menerus dikhawatirkan bahwa kehidupan sosial dan gotong royong yang ada di desa saat ini makin lama akan menjadi sirna.

Hal-hal yang diuraikan di atas terutama tampak dominan untuk daerah-daerah yang jarak antara kota dan desa dapat dikatakan sedang atau jauh (jauh dan sedang dalam arti waktu dan/ atau kemudahan fasilitas transportasi) lain halnya dengan daerah-daerah pedesaan yang dalam arti waktu dan kemudahan fasilitas transportasi tersebut relatif dekat dengan kota.

Menurut Todaro (2004), ada beberapa dampak yang dihasilkan dari migrasi sirkuler yaitu penciptaan keseimbangan ekonomi antara kota dan desa. Keseimbangan kesempatan ekonomi yang lebih layak antara desa dan kota merupakan suatu unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam strategi menanggulangi masalah-masalah pengangguran di desa-desa maupun kota-kota di berbagai Negara-negara berkembang serta untuk mengurangi migrasi desa ke kota; Perluasan industri kecil yang padat karya. Komposisi atau bauran output sangat mempengaruhi jangkauan (dan dalam banyak hal, termasuk juga lokasi) kesempatan kerja karena beberapa produk (terutama barang-barang konsumsi pokok) membutuhkan lebih banyak tenaga kerja bagi setiap unit output dan setiap unit modal daripada produk atau barang-barang lainnya; Pengurangan laju pertumbuhan penduduk melalui upaya pengentasan kemiskinan absolute dan perbaikan distribusi pendapatan, terutama bagi kaum wanita yang disertai dengan menggalakkan program-program keluarga berencana dan penyediaan pelayanan kesehatan di daerah-daerah pedesaan.

2.3. Peningkatan Ekonomi Desa dalam Peningkatkan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa jumlah desa di Indonesia menacapai lebih dari 70 ribu, dan 45 % diantaranya masuk ke dalam kategori desa tertinggal. Sehingga untuk peningkatan pembangunan ekonomi Indonesia, tentunya tak dapat lepas dari pembangunan ekonomi di desa-desa yang ada di negara ini.

Desa atau perdesaan merupakan bagian penting dari perencanaan da pembangunan. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di perdesaan, namun ironisnya hal ini berbanding lurus dengan kondisi kemiskinannya, dimana kantong-kantong kemiskinan juga berada di perdesaan. Masyarakat perdesaan yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sangat sulit untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Ketahanan suatu bangsa sebaiknya dibangun dari daerah-daerah, yaitu desa. Sehingga jika sebelumnya telah diketahui dampak migrasi sirkuler terhadap pertumbuhan ekonomi desa, maka dengan adanya peningkatan ekonomi desa inilah akan membuat semaikn kuatnya perekonomian dan pembangunan nasional.

Dengan adanya migrasi yang terkondisikan dengan baik, maka kemudian akan membuat suatu keseimbangan perekonomian antara desa dan kota, dimana hal ini sangat berpengaruh penting dalam pembangunan nasional. Kesempatan ekonomi yang setara antara desa dan kota akan menimbulkan suatu kesempatan kerja yang setara antara desa dan kota sehingga kemudian tingkat migrasi bisa ditekan kembali, sehingga keseimbangan perekonomian desa dan kota bisa terus terjaga. Sehingga adanya peningkatan ekonomi desa melalui migrasi ini bisa dijadikan suatu solusi bagi pembangunan ekonomi di Indonesia.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Migrasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari satu lokasi yang produk marjinal sosialnya nol ke lokasi lain yang produk marjin sosialnya bukan hanya positif, tetapi juga akan terus meningkat sehubungan dengan adanya peningkatan modal dan kemajuan teknologi.

Migrasi sirkuler merupakan salah satu faktor penting untuk membangun ekonomi desa. Walaupun demikian, migrasi sirkuler dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya dalam segi ekonomi, akan tetapi juga dari segi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan infrastuktur desa. Maka dari itu, perlu adanya pensinergian antara pembangunan di desa dan di kota agar tidak adanya ketimpangan jumlah penduduk dari proses migrasi sirkuler.

Dampak yang diharapkan dari migrasi sirkuler yaitu penciptaan keseimbangan ekonomi antara kota dan desa, sebagai strategi dalam perluasan lapangan kerja tidak hanya di kota namun juga di desa sehingga kemudian akan mengurangi angka migrasi dengan sendirinya. Sehingga pembangunan ekonomi Indonesia secara merata akan tercapai, baik di desa maupun di kota.

3.2 Saran

Perlu adanya campur tangan pemerintah daerah dalam mengelola ekonomi suatu desa dan kota agar dapat mengontrol jumlah penduduk desa yang melakukan migrasi sirkuler. Kesadaran masyarakat desa untuk membangun perekonomian di desanya juga sangat diperlukan agar mereka mau berpartisipasi aktif membangun perekonomian di desa mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Goldscheider, Calvin. 1985. Populasi,Modernisasi dan Struktur Sosial. Terjemahan oleh Algozali Usman dan Andre Bayo Ala. CV Rajawali.

Mantra, I.B. 1978. Population Movement In Wet Rice Communities : a case study of two Dukuh In Yogyakarta Special.

Lee, Eevert, 1966. Teori Migrasi. Diterjemahkan oleh Hans Daeng. Pusat Penelelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi ke 8.

http://us.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/12/time/163933/idnews/673876/idkanal/10

http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/2846/

Alur Keberhasilan Migrasi sebagai Solusi Pembangunan Ekonomi Indonesia melalui Penguatan Ekonomi Desa

menentukan

memberikan pengarahan dan pendampingan kepada warga desa yang akan melakukan migrasi

Diminimalisir

Dengan


[1] Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto adalah Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Sumberdaya Manusia pada Universitas Indonesia. Pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini pernah disampaikan dalam Simposium Dua Hari Kantor Mentrans dan Kependudukan/BAKMP di Jakarta tanggal 25-26 Mei 2000-red

Naskah No. 20, Juni-Juli 2000