BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah kependudukan merupakan masalah yang penting dalam pembangunan suatu negara. Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lain-lain yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Data tentang jumlah penduduk dapat diketahui dari hasil Sensus Penduduk (SP). Sensus penduduk yang telah dilakukan selama ini adalah SP 1930, SP 1961, SP 1971, SP 1980, SP 1990, SP 2000, dan yang saat ini sedang berlangsung Sensus Penduduk 2010. Untuk memenuhi kebutuhan data antara dua sensus, Badan Pusat Statistik melaksanakan Survey Penduduk Antar Sensus (Supas) tiap-tiap tahun yang akhiran dengan angka lima, kecuali Supas 1976. Selama ini telah dilaksanakan Supas 1985, Supas 1995 dan yang terakhir adalah Supas 2005[1].

Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah desa di Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat. Padahal luas wilayah desa tersebut tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada. Hal ini tentu saja akan berpengaruh dalam pembangunan di desa tersebut. Oleh sebab itu makalah dengan topik “Analisis Perkembangan Data Kependudukan dan Demografi Penduduk (Kasus Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat Tahun 2008 dan 2009)” ini diangkat untuk mengetahui permasalahan tentang perkembangan kependudukan dan demografi di Desa Situdaun.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belaang yang telah kami uraikan di atas, perumusan masalah yang dapat diidentifikasi adalah:

  1. Bagaimana mekanisme registrasi dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan registrasi penduduk di Desa Situdaun?
  2. Bagaimana perkembangan penduduk Desa Situdaun?
  3. Bagaimana persebaran dan kepadatan penduduk Desa Situdaun?
  4. Bagaimana struktur penduduk Desa Situdaun?

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas adalah:

  1. Mengetahui mekanisme registrasi dan kendala-kendala dalam pelaksanaannya di Desa Situdaun.
  2. Menganalisis perkembangan penduduk yang terjadi di Desa Situdaun.
  3. Menganalisis persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Situdaun.
  4. Menganalisis dan menjelaskan struktur penduduk di Desa Situdaun.

2.

1.4. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran kependudukan dan demografi yang terjadi di Desa Situdaun serta manfaat bagi akademisi dalam menambah pengetahuan tentang kependudukan dan sebagai bahan referensi. Selain itu makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah sebagai pembahasan lebih lanjut dalam hal kependudukan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demografi

Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu[2].

Sumber-sumber data kependudukan/demografi yang pokok ialah sensus, sistem registrasi kejadian-kejadian vital, registrasi penduduk dan survei-survei terbatas atau survei sampel. Sumber lain sebagai tambahan yang sering berguna adalah catatan-catatan dan dokumen-dokumen instansi pemerintah. Diantara sumber-sumber ini, sensus merupakan sumber data yang paling utama di berbagai Negara, terlebih-lebih di Negara berkembang.

2.2. Komponen Demografi

  1. 1. Mortalitas

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9,5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu[3].

  1. 2. Fertilitas

Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping migrasi masuk. Kelahiran bayi membawa konsekuensi pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang bayi tersebut, termasuk pemenuhan gizi dan kecukupan kalori, perawatan kesehatan. Pada gilirannya, bayi ini akan tumbuh menjadi anak usia sekolah yang menuntut pendidikan, lalu masuk angkatan kerja dan menuntut pekerjaan. Bayi perempuan akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan perempuan usia subur yang akan menikah dan melahirkan bayi[4].

  1. 3. Migrasi

Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu bioma ke bioma lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-sumber cadangan makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau karena overpopulasi.[5]

2.3. Sensus Penduduk dan Sistem Registrasi Penduduk

Sensus diartikan sebagai perhitungan penduduk yang mencakup wilayah suatu negara (Baclay dalam Rusli, 1995). Kegiatan ini dilakukan dengan cara pencacahan langsung ke setiap rumah tangga. Sensus dilakukan antara lain dengan cara:

  • Sistem de jure, yaitu mencacah penduduk menurut tempat tinggal tetap.
  • Sistem de facto, yaitu melakukan pencacahan di tempat orang tersebut ditemukan saat pelaksanaan sensus.
  • Sistem kombinasi dari keduanya.

Sistem registrasi penduduk dipelihara oleh pemerintah setempat dengan pencatatan kelahiran, kematian, adopsi, perkawinan, perceraian, perubahan pekerjaan, perubahan nama, dan perubahan tempat tinggal.

2.4. Permasalahan Demografi

Mukhlason (2010)[6] mengidentifikasi beberapa permasalahan demografi, antara lain:

  1. 1. Sebaran Migrasi dan Profesi

Dalam hal ini Mukhlason memberi gambaran bahwa kebanyakan masyarakat dari desa bermigrasi ke kota karena lapangan pekerjaan di kota lebih banyak dari pada di desa. Dari gambaran ini terlihat adanya ketidakmerataan sebaran penduduk akibat migrasi serta adanya ketidakmerataan jumlah lapangan pekerjaan antara kota dan desa.

  1. 2. Kendala Kependudukan

Akibat adanya migrasi dari desa ke kota, desa mengalami kelangkaan jumlah penduduk. Hal ini menjadi penyebab lambatnya pembangunan dan kenaikan tingkat kesejahteraan. Rumah tangga yang dahulunya memiliki warga rata-rata 5 orang, kini semakin berkurang seiring semakin dewasanya anak-anak. Dengan fasilitas pendidikan yang terbatas serta fasilitas untuk mencari penghidupan yang sedemikian rupa, orang tua yang berorientasi pada masa depan selalu mengirimkan anak-anaknya untuk mencari ilmu dan nafkah di daerah lain yang memungkinkan.

Selain terbatasnya fasilitas, keberhasilan program Keluarga Berencana yang digalakkan pada masa orde baru cukup memberi andil pada pengurangan jumlah penduduk. Permasalahan lain, adalah semakin banyaknya populasi lansia yang tidak diimbangi oleh penduduk usia produktif. Ini berakibat pada semakin berkurangnya tenaga-tenaga yang biasa mengerjakan profesi pertanian dan perkebunan. Padahal rata-rata penduduk desa memiliki lahan perumahan, perkebunan atau persawahan yang tentunya tidak bisa dikerjakan sendiri.

  1. 3. Konversi Lahan

Lahan yang dulunya digunakan untuk lahan pertanian, saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri. Dengan keterbatasan jumlah lahan, manusia semakin kesulitan memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhannya akan pangan. Hal ini dikarenakan lahan yang tadinya berupa sawah, ladang, dan perkebunan telah dialihfungsikan. Hal ini sesuai dengan hukum Maltus yang berbunyi

“Penduduk cenderung tumbuh secara “deret ukur” (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara “deret hitung” (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dalam terbitan belakangan Malthus berkata bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan kejeblos ke dalam kemiskinan dan kelaparan”[7]

2.5. Usaha-usaha Pemerintah Mengatasi Pertambahan Penduduk[8]

  1. 1. Program KB

Keluaga Berencana adalah suatu program yang dilaksanakan untuk membangun keluarga yang sejahtera dengan jalan mengurangi angka kelahiran anak. Adapun anjuran KB adalah dengan memiliki dua anak, baik laki-laki maupun perempuan. Program KB dimaksudkan untuk menekan laju pertambahan penduduk. Dalam pengertian secara efektif untuk mencegah kehamilan. Dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

  1. 2. Sosialisasi Perencanaan Pernikahan yang Matang

Meningkatnya usia kawin dan kemajuan pendidikan mempengaruhi pula pertambahan penduduk di Indonesia. Semakin rendah usia kawin seorang wanita maka semakin tinggi tingkat fertilitasnya, sedangkan semakin tinggi usia kawin seorang wanita maka akan semakin rendah tingkat fertilitasnya.
Faktor paling dominan dalam meningkatnya usia pernikahan/perkawinan adalah meningkatnya pendidikan kaum wanita. Pendidikan mempengaruhi pola pergaulan, pemilihan jodoh, dan umur perkawinan. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka mereka akan berpikir matang untuk melakukan pernikahan, mereka tidak lagi takut ketinggalan dalam hal karier dengan kaum pria, tidak lagi takut dengan anggapan tidak laku dan mereka akan tegas pula dalam pengambilan keputusan apabila wanita tersebut sudah menikah.

  1. 3. Sosialisasi Kepada Kaum Remaja Tentang “SAY NO FREE SEX”

Sejalan dengan perubahan-perubahan sosial, ekonomi, politik, dan komunikasi dewasa ini, terjadi perubahan-perubahan mengenai perilaku sex dan norma-norma sex. Di Indonesia secara umum kecenderungan ke arah yang lebih permisif dalam hal sex, baik remaja maupun golongan umur yang lebih tinggi terus berlangsung, baik di tingkat individu dan masyarakat. Konsekuensi dari hal itu adalah remaja pada masa kini jauh lebih banyak mendapatkan rangsangan sex daripada remaja 10 tahun yang lalu. Maka pemerintah mengadakan tindakan sosialisasi ke SMP dan SMA yang ada di Indonesia, tentang apa itu free sex, dan bahaya-bahayanya bagi remaja.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang kami gunakan adalah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang kami anggap memiliki informasi mengenai objek penelitian kami. Selain itu, kami juga menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis data-data kependudukan yang kami peroleh dari wawancara.

3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Situdaun Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat pada tanggal 26 Mei 2010.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui analisis hasil wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dengan menelusuri beberapa studi pustaka berupa artikel, data statistik, internet, dan literatur yang berhubungan dalam menganalisis data kependudukan yang telah diperoleh di lapangan.

3.4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan adalah menghitung data yang telah diperoleh sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan telah ditetapkan. Setelah itu hasil perhitungan dianalisis dan disesuaikan dengan teori yang telah ada. Kemudian hasil analisis tersebut kami jadikan laporan dan diubah dalam bentuk tertentu agar lebih mudah menggambarkan hasil penelitian.

BAB IV

PEMBAHASAN

1.

2.

3.

4.

4.1. Gambaran Umum Desa Situdaun

Desa Situdaun terletak di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Luas Desa : 329,045 Ha

Terdiri atas:

-          Darat        : 159,000 Ha

-          Sawah      :170,045 Ha

  • Batas Wilayah

-          Sebelah Utara      : Kecamatan Ciampea

-          Sebelah Selatan   : Desa Gunung Malang

-          Sebelah Timur      : Kecamatan Darmaga

-          Sebelah Barat      : Desa Cibitung

4.2. Ketersediaan Data dan Sistem Registrasi Penduduk Desa Situdaun

Tenjolaya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten BogorPropinsi Jawa Barat. Tenjolaya merupakan kecamatan hasil pemekaran dengan Kecamatan Ciampea pada tahun 2004, di dalam Kecamatan Tenjolaya terdapat suatu desa yang bernama Situdaun. Ketersedian data penduduk Desa Situdaun merupakan hasil dari proses wawancara yang di himpun melalui RT RW setempat. Ketersedian data juga diperoleh berdasarkan laporan dari instansi terkait seperti artikerl, data statistik, internet, leteratur serta data yang disiapkan dari berbagai sumber.

Sistem registrasi penduduk Desa Situdaun baik lokal maupun pendatang harus melapor kepada RT setempat, setelah itu melaporkan hasil registrasi ke kantor kelurahan Desa Situdaun. Tidak hanya registrasi penduduk desa yang datang ke Desa Situdaun, akan tetapi masyarakat yang keluar dari desa tersebut pun diwajibkan melapor ke kantor kelurahan desa. Masyarakat yang melahirkan dan yang meninggal dunia pun melapor, sehingga data jumlah penduduk di desa tersebut terpantau oleh kelurahan desa.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.

4.1.

4.2.

4.3. Data Penduduk

Data Penduduk Desa Situdaun Tahun 2008 dan 2009

Tabel 1. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2008 (dalam jiwa)

Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 287 290 3,4% 3,4% 577 577
5-9 268 282 3,1% 3,3% 550 1127
10-14 271 296 3,2% 3,5% 567 1694
15-19 448 396 5,2% 4,6% 844 2538
20-24 271 310 3,2% 3,6% 581 3119
25-29 327 364 3,8% 4,3% 691 3810
30-34 381 375 4,5% 4,4% 756 4566
35-39 389 330 4,5% 3,9% 719 5285
40-44 362 304 4,2% 3,6% 666 5951
45-49 297 293 3,5% 3,4% 590 6541
50-54 294 313 3,4% 3,7% 607 7148
55-59 332 335 3,9% 3,9% 667 7815
60-64 191 126 2,2% 1,5% 317 8132
65-69 178 112 2,1% 1,3% 290 8422
70-74 63 45 0,7% 0,5% 108 8530
75+ 14 11 0,2% 0,1% 25 8555
Jumlah 4373 4182 51,1% 48,9% 8555

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 2. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2009 (dalam jiwa)

Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 351 357 4,1% 4,2% 708 708
5-9 296 382 3,4% 4,4% 678 1386
10-14 329 375 3,8% 4,3% 704 2090
15-19 380 357 4,4% 4,2% 737 2827
20-24 371 394 4,3% 4,6% 765 3592
25-29 357 360 4,2% 4,2% 717 4309
30-34 334 330 3,9% 3,9% 664 4973
35-39 426 274 5,0% 3,2% 700 5673
40-44 268 223 3,1% 2,6% 491 6164
45-49 289 211 3,4% 2,5% 500 6664
50-54 138 173 1,6% 2,0% 311 6975
55-59 335 359 3,9% 4,2% 694 7669
60-64 250 228 2,9% 2,7% 478 8147
65-69 162 118 1,9% 1,4% 280 8427
70-74 79 74 1,0% 0,8% 153 8580
75+ 15 6 0,1% 0,2% 21 8601
Jumlah 4380 4221 8601

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 3. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Kejadian Demografi Penduduk

Kejadian Demografi Tahun 2008 Tahun 2009
Kelahiran 63 orang 25 orang
Kematian 10 orang 16 orang
Imigrasi 8 orang 10 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 4. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Agama

Agama Tahun 2008 Tahun 2009
Islam 8550 8579
Katholik 2 2
Protestan 2 -
Hindu - -
Budha - -
Khonghucu 1 -

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 5. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Tahun 2008 Tahun 2009
TK 145 orang 160 orang
SD/MI 1541 orang 2789 orang
MTS/SLTP 926 orang 1668 orang
MA/SLTA 903 orang 895 orang
D2/D3 74 orang 31 orang
S1/Sarjana 21 orang 18 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Terlihat jelas bahwa masyarakat Desa Situdaun tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Dari tabel, sebanyak 2789 masyarakat Desa Situdaun yang mengenyam pendidikan sampai SD.

Tabel 6. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Mata Pencaharian

Mata Pencaharian Tahun 2008 Tahun 2009
PNS 26 orang 26 orang
ABRI 2 orang 2 orang
Wiraswasta 201 orang 160 orang
Tani 275 orang 275 orang
Buruh Tani 480 orang 312 orang
Pertukangan 37 orang 36 orang
Pensiunan 21 orang 17 orang
Jasa 4 orang 14 orang
Lain-lain 121 orang 429 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Hasil wawancara yang kami dapatkan dari pengurus kelurahan desa bahwa mata pencaharian di Desa Situdaun kebanyakan adalah seorang buruh petani. Cukup banyak sawah di desa tersebut, meskipun sudah banyak desa yang dibangun rumah-rumah penduduk, akan tetapi sawah disana kebanyakan bukan milik warga setempat, akan tetapi milik masayarakat kota diluar masyarakat Desa Situdaun. Masyarakat Desa Situdaun bekerja di sawah hanya seabagi buruh tani saja, karena sawah yang mereka garap bukanlah sawah mereka, akan tetapi ada juga beberapa warga desa yang memiliki sawah di Desa tersebut. Namun, banyak juga pemuda desa yang bekerja sebagai pengrajin, contohnya pengrajin anyaman bambu.

Tabel 7. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Etnis

Etnis Laki-Laki Perempuan
Batak 3 orang 1 orang
Betawi 1 orang 1 orang
Sunda 4362 orang 4175 orang
Jawa 6 orang 4 orang

Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.

4.1.

4.2.

4.3.

4.4. Analisis Perkembangan Penduduk Desa Situdaun

Penduduk Desa Situdaun dalam perkembangannya mengalami sedikit peningkatan.

Tahun 2008

  • Reit Kematian Kasar:

CDR=  x 1000

=  x 1000

=2,3

=3

Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat 3 orang yang meninggal.

  • Reit Kelahiran Kasar

CBR=  x 1000

=  x 1000

=14,7

=15

Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat kelahiran sebanyak 15 orang.

  • Proporsi wanita                       Dalam presentase = 0,489 x 100 %

P =                                             = 48,9%

=

= 0,489

  • Rasio anak wanita

RAW  x 100

=  x 100

= 11,9

=12

Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 12 orang anak.

  • Rasio beban tanggungan

RBT =  x 100

=   x 100

=  x 100

= 32,88

= 33

Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 33 penduduk usia non produktif.

  • Umur median

UM      =  x k

=30 +   x 5

=30 +  x 5

=30 +

=30 + 3,09

= 33,09

Tahun 2009

  • Reit Kematian Kasar:

CDR=  x 1000

=  x 1000

=

Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat orang yang meninggal.

  • Reit Kelahiran Kasar

CBR=  x 1000

=  x 1000

=

Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat kelahiran sebanyak orang.

  • Proporsi wanita                       Dalam presentase = x 100 %

P =                                             = %

=

=

  • Rasio anak wanita

RAW  x 100

=  x 100

=

=

Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 12 orang anak.

  • Rasio beban tanggungan

RBT =  x 100

=   x 100

=  x 100

= 32,88

= 33

Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 33 penduduk usia non produktif.

  • Umur median

UM      =  x k

=30 +   x 5

=30 +  x 5

=30 +

=30 + 3,09

= 33,09

  • Reit Perkembangan Penduduk Desa Situdaun tahun 2008 dan 2009

Pt         = Po (1+r)t Pt =jumlah penduduk pada akhir periode t

Hj                                Po=jumlah penduduk pada awal periode t

J                                   r   =reit perkembangan penduduk per tahun

4.5. Analisis Persebaran dan Kepadatan Penduduk Desa Situdaun

Berdasarkan data yang telah kami peroleh maka persebaran penduduk Desa Situdaun pada tahun 2008 dan 2009 berdasarkan jenis kelamin adalah:

Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 secara keseluruhan adalah:

RJK   x 100

=  x 100

=104,56

=105

Jadi, setiap 100 orang perempuan terdapat 105 orang laki-laki di Desa Situdaun pada tahun 2008.

Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 berdasarkan interval usia adalah:

  • RJK0-4 x 100 =  x 100 =98,96 =99

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 0-4 terdapat 99 laki-laki.

  • RJK5-9 x 100 =  x 100 =95,03 =96

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 5-9 terdapat 96 laki-laki.

  • RJK10-14 x 100 =  x 100 =91,55 =92

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 10-14 terdapat 92 laki-laki.

  • RJK15-19 x 100 =  x 100 =113,13 =114

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 15-19 terdapat 114 laki-laki.

  • RJK20-24 x 100 =  x 100 =87,41 =88

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 20-24 terdapat 88 laki-laki.

  • RJK25-29 x 100 =  x 100 =89,83 =90

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 25-29 terdapat 90 laki-laki.

  • RJK30-34 x 100 =  x 100 =101,6 =102

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 30-34 terdapat 102 laki-laki.

  • RJK35-39 x 100 =  x 100 =117,87 =118

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 35-39 terdapat 118 laki-laki.

  • RJK40-44 x 100 =  x 100 =98,96 =120

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 40-44 terdapat 120 laki-laki.

  • RJK45-49 x 100 =  x 100 =101,36 =102

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 45-49 terdapat 102 laki-laki.

  • RJK50-54 x 100 =  x 100 =93,92 =94

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 50-54 terdapat 94 laki-laki.

  • RJK55-59 x 100 =  x 100 =98,96 =100

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 55-59 terdapat 100 laki-laki.

  • RJK60-64 x 100 =  x 100 =98,96 =99

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 60-64 terdapat 99 laki-laki.

  • RJK65-69 x 100 =  x 100 =158,92 =159

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 65-69 terdapat 159 laki-laki.

  • RJK70-74 x 100 =  x 100 =140

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 70-74 terdapat 140 laki-laki.

  • RJK75+ x 100 =  x 100 =127,27 =128

Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 75+ terdapat 128 laki-laki.

Pesebaran penduduk di Desa Situdaun dari data yang diperoleh terdapat 8555 warga tersebar dalam 329,045 Ha/m2 dari luas daerah Desa tersebut.  Terlihat bahwa kepadatan penduduk di Desa Situdaun cukup padat. Seperti yang kami lihat saat berada di desa tersebut, rumah-rumah disana begitu berimpit dan luasnya tidak besar. Kebersihan di desa tersebut pun kurang terjaga, karena terlalu banyak penduduk dan rumah-rumah yang tidak tersusun rapih sehingga pemukiman terlihat sedikit kumuh.

4.6. Analisis Struktur Penduduk Desa Situdaun

Berdasarkan data yang kami peroleh, kami dapat menyajikan piramida penduduk Desa Situdaun pada tahun 2008 dan 2009 sebagai berikut:

Piramida Penduduk Desa Situdaun per 31 Desember 2008

Piramida Penduduk Desa Situdaun per 31 Desember 2008


BAB V

PENUTUP

1.

2.

3.

4.

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran


DAFTAR PUSTAKA


[1] http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/200/200/

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Demografi

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Mortalitas

[4] http://www.scribd.com/doc/13199536/fertilitas

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Migrasi

[6] http://mukhlason.wordpress.com/2010/04/19/permasalahan-demografi-sebaran-penduduk-yang-tidak-merata/ 19-April-2010 diakses pada tanggal 1 Juni 2010.

[7] http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/07/tokoh-thomas-malthus.html 30 Mei 2010, diakses pada tanggal 1 Juni 2010.

[8] http://yuni-wijaya.blogspot.com/2010/05/hubungan-pertumbuhan-penduduk-dengan.html Monday, May 10, 2010

Comments are closed.