BAB  I

PENDAHULUAN

1.1
Latar Belakang

Dalam
kehidupan sehari-hari manusia cenderung selalu melakuakn interaksi dengan
sesamanya karena itu sudah kodrat manusia diciptakan sebagai makhluk social
yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Setiap manusia pasti melakuakn suatu
proses yang dinamakan komunikasi. Komunikasi merupakan suatu proses interaksi
antar individu yang mempertukarkan sebuah informasi untuk mengubah sebuah
sikap, perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui
media. Komunikasi massa merupakan salah satu proses yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.

Definisi
yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980: 10)
dalam Rakhmat (1998: 188) komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan
melalui media massa pada sejumlah besar orang. Komunikasi massa bisa dianggap
tersebar, heterogen melalui media cetak atau elektonik sehingga tujuan dalam
komunikasi tersebut tercapai yaitu pesan/informasi yang diterima sama dengan
yang disampaikan oleh sumber. Media massa yang dapat digunakan banyak seperti
surat kabar, radio, televisi, majalah, film, dll..

Media
massa sangat memiliki peranan penting dalam terjadinya suatu komunikasi massa
dan perubahan budaya dalam masyarakat. Contohnya televisi diduga memiliki
pengaruh yang kuat terhadap kehidupan manusia. Tetapi pengaruhnya tersebut bisa
bersifat negative ataupun positf bergantung pada pengelolaannya. Kehadiran
televisi didalam kehidupan masyarakat luas ini dapat memberikan pengaruh yang
positif terhadap sistem komunikasi yang sedang berlaku di Indonesia, asalkan
seiring dengan media massa dan media lainnya dalam menjalankan fiungsinya.
Berbicara sistem komunikasi tidak berbeda dengan berbicara tentang sistem
masyarakat Indonesia, tentang manusia Indonesia dalam mencerna sebuah informasi
dalam proses komunikasi.

Tayangan
televisi banyak yang sudah tidak sesuai dengan tatanan nilai budaya dalam
masyarakat. Melalui penggunaan bahasa dan gambar sebagai sistem simbol yang
utama, tayangan televisi mampu menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suatu
realitas. Tanpa sadar kita digiring oleh definisi yang ditanamkan media. Secara
tidak langsung hal itu membuat kita mengubah definisi kita atau menubah asumsi
kita terhadap suatu masalah.

Masyarakat
Indonesia sendiri sudah pernah mengalami hidup pada tiga zaman yaitu penjajahan
Belanda, penjajahan Jepang dan kemerdekaan. Pengaruh sistem pemerintahan besar
sekali terhadap sistem komunikasi, jelas dialami oleh orang Indonesia yang
mengalami hidup di tiga zaman tersebut. Entah apa pengaruh yang lebih jelasnya
lagi, sehingga masalah ini menjadi penting untuk dibahas lebih lanjut.

1.2
Rumusan Masalah

Televisi
sering kali digunakan dalam kehidupan guna memperoleh sebuah informasi yang
sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat tersebut. Maka terdapat rumusan
masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana
perkembangan televisi sebagai media massa?

2. Apakah
televisi berpengaruh terhadap budaya dan sistem komunikasi di Indonesia?

1.3
Tujuan

Dalam
penyusunan tulisan ini ada beberapa tujuan yaitu untuk mengkaji lebih dalam
komunikasi massa dalam masyarakat, untuk mengetahui pengaruh televisi dalam
kehidupan masyarakat dan sistem komunikasi yang ada di Indonesia serta untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi masyarakat pada komunikasi
massa.

1.4
Manfaat

Adapun
manfaat dari tulisan ini membuka kepada pembaca tentang pentingnya komunikasi
massa yang berpengaruh pada sistem komunikasi yang ada. Menambah wawasan
penulis dalam bidang komunikasi massa dan sebagai salah satu pemenuhan tugas
akhir matakuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah

BAB II

SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI

2.1 Televisi sebagai
Media Komunikasi Massa

Komunikasi
massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang
tesebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak maupun elektronik sehingga
pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Effendy, 2008)[1].
Televisi sebagai media massa baru lahir pada tahun 1946, ketika khalayak dapat
menonton siaran rapat Dewan Keamanan PBB New York (Amir, 1999).  Menurut Ma’rat dalam Effendy (2008)[2], ”acara
televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan
penonton, sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan
menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan
kisah atau peristiwa yang ditayangkan televisi.” Televisi sangat memiliki daya
tarik kuat yang disebabkan unsur-unsur kata, musik dan sound effect serta memiliki unsure visual berupa gambar. Televisi
menjadi media komunikasi setelah adanya radio yang dapat menyampaikan informasi
kepada khalayak namun masih terdapat kekurangan, seperti pesan hanya secara
suara/audio tanpa ada gambar.

2.3
Televisi Sebagai Hasil Kebudayaan

Budaya
dalam arti luas menurut Koenjtaraningrat (2002) merupakan seluruh total dari
pikiran, karya , dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya
dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah prosess belajar.

“Sedangkan Sumarwan (2002) mengatakan,
pengertian kebudayaan adalah segala nilai, pemikiran, symbol yang mempengaruhi
perilaku, sikap, kepercayaan dan kebiasaan seseorang dan masyarakat. Budaya
menjadi suatu pola karena terjadi berulang ulang, berakar, terpola, sehingga
sulit untuk berubah dan membutuhkan penyesuaian untuk masuk kedalam masyarakat.”

Budaya sendiri tidak harus yang bersifat
abstrak seperti nilai/norma dan pemikiran, namun budaya juga bisa berbentuk
objek material yang nyata. Televisi, radio dan bahasa bisa di pandang sebagai
hasil dari sebuah kebudayaan yang sudah tidak asing dalam masyarakat. Televisi
ini mempengaruhi aspek-espek kehidupan masyarakat, termasuk budaya karena
seperti teleh disebut diatas televisi sudah merupakan budaya yang terlibat
dalam kehidupan masyarakat. Sehingga dengan mudah diterima dan mempengaruhi
masyarakat itu

BAB
III

PENGARUH TELEVISI TERHADAP
MASYARAKAT

3.1
Kedudukan Televisi dalam Kehidupan sosial Masyarakat

Beragam
kemajuan teknologi semakin memudahkan masyarakat dalam mengakases informasi
dari luar, salah satunya dengan cara menonton siaran televisi. Hal ini
menjadikan televisi sebagai salah satu media yang paling banyak di akses oleh
masyarakat. Menurut James Lull dalam Mulyana (2008)[3],
televisi merupakan medium sosial yang memungkinakan anggota khalayak
berkomunikasi dan mengkonstruksi strtegi untuk memperoleh tujuan pribadi dan
social secara luas. Karena itu tayangan televisi eken member efek yang lebih
kuat daripada media lainnya. Tayangan televisi lebih mempu menembus daya nalar
manusia menggerakan manusia untuk melakukan berbagai aksi baik dalam arti
positif maupaun  negativ.

Televisi
mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kedalam jiwa manusia melalui mata
dan telinga. Umumnya orang akan mengingat setiap informasi yang ditayangkan
televisi dengan mudah, meskipun tayangan tersebut hanya ditayangkan sekali
saja. Kemampuan televisi yang luar biasa terebut sangat bermanfaat bagi banyak
pihak baik dari kalangan ekonomi hingga politik. Televisi dijadikan suatu media
periklanan yang sngat efektif oleh pengusaha untuk mempromosikan barang/jasa
mereka. Sementara bagi kalangan politisi, televisi sering dijadikan sebagai
media untuk menggalang massa agar mendukung mereka. Fungsi lainnya yaitu
sebagai media publikasi dan sosialisasi dari setiap kebijakan pemerintah
seperti penurunan BBM dan kebijakan konversi minyak tanah ke  gas. Televisi memiliki kemampuan yang baik
untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media lainnya. Televisi
lebih bisa menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis.

3.2
Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Masyarakat

Sekarang
ini banyak sekali tayangan televisi yang sebenarnya merupakan duplikasi dari
acara luar negeri. Dalam hal ini perusahaan televisi swasta di Indonesia hanya
membeli lisensi dari luar negeri untuk menyangkan acara yang sama. Melalui
acara-acara yang sebagian besar diimpor, televisi memasyarkatkan nilai budaya
asing yang longgar dan serba boleh, termasuk kepada masyarakat pedesaan yang
sebenarnya memandan sebagian besar acara TV swasta tidak relevan dengan
kebutuhan mereka . sehingga karen berondongan pesan yang asing itu, masyarakat
pedesaan mengalami geger budaya.

Sinetron
remaja[4]
yang ramai ditayangkan di televisi Indonesia didominasi oleh konflik-konflik
yang tidak menggambarkan kehidupan santun sesuai budaya bangsa. Alur cerita
yang diisi dengan perebutan pacar, sikap hidup konsumtif,gaya hidup konsumtif
dan melawan kepada orang tua. Hal ini dapat merusak moral generasi penerus
bangsa dan menanamkan nilai tertentu yang mempengaruhi budaya dalam masyarakat.

Disisi
lain media televisi adalah organisasi profit yang sangat tergantung oleh
lingkungan orgganisasinya. Lingkungan yang dihadapi oleh media adalah
lingkungan yang dinamis, sumberdaya kurang persaingan yang ketat sehingga media
televisi harus mampu membaca keinginan dan lingkungan pasar. Sebagai sebuah
perusahaan yang berorientasi pada pemaksimalan keuntungan maka stasiun televisi
sangat dituntut agar dapat mengembangkan kreativitas mereka untung menjaring
iklan sebanyak-banyaknya, dalam hal ini masing-msaing stasiun televisi memiliki
tekniknya masing-masing. Sehingga masyarakat pun bisa terpengaruh oleh iklan
mereka dan menyaksikan tayangan televisi yang mereka tampilkan, terlebih lagi
masyarakat menjadi menggunakan barang/jasa yang diklankan tersebut.

BAB
IV

PENGARUH TELEVISI TERHADAP SITEM
KOMUNIKASI

Redi
Panuju (1997), menjelaskan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi indonesia
haruslah membahas dua hal, yaitu pertama sistem komunnikasi di Indonesia
mempunyai makna pola-pola komunikasi yang secara idealistic dan normative
diharapkan ada dan terjadi di Indonesia. Bahasan mengacu pada nilai-nilai,
norma-norma, dan hukum yang merumuskan bagaimana komunikasi dijalankan atau
terjadi. Kedua sistem komunikasi Indonesia mempunyai makna deskriptif dari
gejala komunikasi yang actual, sedang terjadi di Indonesia. Bahasan mengacu
pada fakta-fakta empiris yang secara objektif benar-benar ada atau terjadi.

Pemerintah
tidak memiliki sistem komunikasi untuk memberdayakan masyarakat yang seharusnya
ada sistem komunikasi nasional, sehingga dapatlah dibicarakan sub sistem media
cetak dan siaran agar tidak tejadi tumpang tindih. Televisi Republik Indinesia
(TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI) menyalurkan informasi tentang
kebijakan pemerintah agar diketahui oleh masyarakat. Karena itu kurang baik
apabila TVRI dan RRI diswastakan, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan
televisi dan radio swasta. Kebanyakan dari stasiun televisi swasta lebih
mengutamaka dalam perolehan keuntungan dariada pesan yang disampaikan.

Hal
ini terlihat dari data pada Tabel 1. yang menunjukan dari tahun ke tahun
meningkatnya jumlah perolehan hasil iklan dari stasiun televisi saat itu.
Sehingga mempengaruhi sistem komunikasi massa yang ada di Indonesia karena
informasi yang di sampaikan dari televisi sebagai media massa tidak seluruhnya
sampai kepada masyarakat, disebabkan adanya dominasi tujuan dari perusahaan
televisi tersebut lebih kepada meraih keuntungan dari pada menyampaikan
informasi. Tayangan televisi sekarang pun lebih banyak kepada tayangan yang
bersifat hiburan daripada tentan pendidikan, lingkungan, yang lebih banyak
memiliki manfaat. Karena seperti yang dikatakan diawal banyak acara televisi
sekarang mengadopsi acara televisi dari luar negeri yang berbeda sistem
komunikasinya dengan Negara kita.

Tabel
1. Perolehan Iklan Televisi di Indonesia Tahun 1999 sampai 2003 (dalam juta
rupiah)

Stasiun 1999

(%)

2000

(%)

2001

(%)

2002

(%)

2003

(%)

SCTV 885.998 (25,7) 1.214.666 (24,6) 1.591.885 (24,8) 1.712.839

(20,4)

2.072.831 (17,8)
RCTI 954.728 (27,7) 1.251.815 (25,4) 1.420.508 (23,5) 1.878.807 (22,4) 2.050.746 (17,6)
Indosiar 937.712 (24,3) 1.330.996 (27,0) 1.609.870 (26,6) 1.898.224 (26,6) 1.949.476 (16,7)
Trans TV _ _ _ 652.061

(7,8)

1.388.302 (11,9)
TPI 446.832 (13,0) 819.958 (16,6) 905.144 (14,9) 916.807 (10,9) 936.565 (8,0)
TV7 _ _ 22.183

(0,4)

205.226

(2,4)

838.516 (7,2)
Global TV _ _ _ 311.208

(3,7)

742.824 (6,4)
Metro TV _ 17.788

(0,4)

243.004

(4,0)

438.085

(5,2)

521.806 (4,5)
LATIVI _ _ _ 155.526

(1,9)

502.984 (4,3)
ANTV 323.369

(9,4)

297.816

(0,6)

331.001

(5,5)

158.967

(1.9)

449.236 (3,9)
JTV _ _ 23.276

(0,4)

54.336

(0,6)

148.337 (1,3)
TVRI _ _ _ _ 44.677

(0,4)

Bali TV _ _ _ _ 13.307

(0,1)

Total 3.548.683 (100) 4.933.039 (100) 6.146.871 (100) 8.382.086 (100) 11.659.607 (100)

Sumber : Media scence, 2003-2004 dalam
Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, Mahfud Mufid. Jakarta:    Kencana Prenada Media Group.(2005)

BAB
V

Organisasi Profit yang sanggat dipengaruhi lingkungan
yang dinamis dan persaingan yang ketat

KERANGKA
PEMIKIRAN

  • ·
    Tayangan berpengaruh terhadap budaya
    masyarakat
  • ·
    Perusahaan televisi  berpengaruh terhadap sistem komunikasi
Lebih mengutamakan keuntungan daripada tujuan sistem
komunikasi yang ada
MEDIA KOMUNIKASI MASSA
HASIL DARI KEBUDAYAAN
TELEVISI

BAB
VI

PENUTUP

6.1
Kesimpulan

Televisi
tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan sehari-hari. Didukung dengan
beragam kemajuan teknologi semakin memudahkan masyarakat mengakses siaran
televisi, menjadikannya sebagai salah satu
media massa yang paling banyak di akses oleh masyarakat. Sehingga, baik
secara langsung maupun tidak langsung televisi dapat mempengaruhi budaya
masyarakat yang semakin hari semakin berubah dan dapat mempengaruhi tujuan dari
sistem komunikasi yang ada di Indonesia, yang awalnya untuk memberikan
informasi dan wawasan kepada masyarakat menjadi alat mencari keuntungan oleh
perusahaan pertelevisian.

5.2
Saran

Melihat
begitu kuatnya pengaruh televisi bagi kehidupan masyarakat maka ada baiknya
apabila :

1.
Tayngan televisi lebih didsesuaikan
dengan nilai budaya bangsa

2.
Tayangn televisi lebih disesuaikan dalam
hal jam  tayang dan  terdapat segmentasi acara yang tepat

3.
Stasiun televisi harus menyesuaikan  sistem komunikasi yang ada di Indionesia

4.
Perusahaan televisi juga harus
menyesuaikan dengan tujua sistem komunikasi

5. Kita
sebagai Konsumen juga harus lebih meningkatkan pemahaman kita tentang tayangan
televisi yang pada akhirnya kita bisa dengan bijak memahami dan  memaknai tayangan televisi

DAFTAR
PUSTAKA

Effendy,
Onong U.2008. Dinamika Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hoffman,
Ruedi. 1999. Dasar-dasar Apresiasi
Program Televisi
. Jakarta: Grasindo.

Koentjaraningrat.2002. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mufid,
Mahfud. 2005. Komunikasi dan Regulasi
Penyiaran
.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mulyana,
Deddy.2008. Komunikasi Massa:
Kontroversi, Teori dan Aplikasi
. Bandung: Widya Padjajaran.

Panuju, Redi. 1997. Sistem Komunikasi Indonesia.
Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Rakhmat,
Jalaludin. 1998. Psikologi Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumarwan,
Ujang.2004. Perilaku Konsumen: Teori dan
Penerapannya dalam Pemasaran
. Bogor: Ghalia Indonesia.

Comments are closed.